Lovesick
(It hurts to fall in love with someone who can’t love you back)
Cerita berikut ini lagi-lagi bertemakan tentang ciNta,…
LovE again,…. Again and again…
Biar temanya yang itu-itu juga, tapi cerita di dalamnya beda dunk. Ibarat sambel buatan mama sama sambel tetangga, pasti rasanya beda. Padahal buatnya sama-sama pake cabe, ya gak?!
Loh..koq jd ngomongin sambel?! Kembali ke ceritanya tadi,…
Jadi, kisah yang berikut ini bisa dinamakan White Love, ‘cinta putih’. Kenapa putih? Karena tokohnya pada pake baju putih,.. Hayo, pada mikir apaan? Jangan mikir horror dulu ya, makanya dibaca!!!!
Jadi settingnya itu di sebuah rumah sakit. Tokohnya juga orang-orang medis,.. ceritanya cukup dramatis, tapi pleaseeeeeeeee……. jangan nangis, ntar air matanya abis. Daripada nangis mendingan tersenyum manis dan berpikir realistis (hehehe…so sweeettt, penulisnya cerdas abissss)
Aduh,… makin nggak nyambung aja nich, ya udah dech, langsung ke ceritanya aja.
Setelah sekian lama menjalani perkuliahan, akhirnya tiba juga waktunya praktek langsung di lahan praktek yang sesungguhnya, yakni Rumah Sakit. Nayla, mahasiswi keperawatan tingkat 1 di salah satu institusi ternama di kotanya jadi harap-harap cemas menanti hari itu. Ini adalah pengalaman pertama buatnya. Gugup, takut, seneng, bingung, dsb di mix jadi satu dan cukup mewakili perasaannya saat itu.
Pagi itu hujan deras, puluhan mahasiswa dan mahasiswi yang mau memulai dinas di RS berkumpul di Aula untuk diberikan pengarahan. Jam karet sepertinya udah jadi tradisi orang-orang Asia. Pengarahan yang dijadwalkan jam 7.30 pagi, jadi di undur sampai jam 9.00. Lamaaaaaaaaaa banget dEh, tapi ini justru bikin Nayla dan teman-teman jadi seneng khususnya yang kebagian dinas pagi. Secara hari pertama sebagian waktunya hampir habis untuk pengarahan aja. Jadi buat yang dinas pagi, beruntung banget, soalnya cuma kebagian setengah waktu dinas aja. Jadi, nggak kerasa bisa cepat pulang dech. Tapi, buat yang dinas sore, kayaknya ini hari yang ribet dech. Bangun pagi, dengerin pengarahan, trus pulang. Abis itu, sekitar 3 jam kemudian balik lagi ke rumah sakit buat dinas sore sampai jam 9 malam. Cape kan bolak-balik but it’s okay, itu namanya DM, Derita Mereka. (hehehehe…just kidding)
Selesai pengarahan, masing-masing kelompok mahasiswa di antar menuju ke ruangan-ruangan rumah sakit dimana mereka di tempatkan. Nayla dan teman-teman sekelompoknya minggu ini kebagian di ruang bedah. Disitu kebanyakan pasiennya korban kecelakaan dan ada juga pasien post op alias yang abis operasi tapi lukanya masih belum sembuh atau infeksi. Pokoknya ya gitu dech, bisa bayangin sendiri kan,?!
Waktu pertama kali menginjakkan kaki di ruangan itu, Nayla deg-degan banget. Namanya juga for the first time, jadi ya wajar aja. Yang bikin Nayla jadi tambah deg-degan lagi, ternyata di ruangan itu juga udah ada mahasiswa tingkat II dari institusi lain yang kebetulan udah lebih dulu dinas disitu. Waduh, ketemu yang lebih senior nich, kira-kira kakak-kakaknya baik atau nggak ya???? Kurang lebih gitu tuch yang ada dipikiran Nayla saat itu.
Setelah menaruh tas di lemari penyimpanan yang udah disediakan pihak rumah sakit, Nayla dan teman-teman keliling ruangan, celingak-celinguk ngeliatin pasien. Udah berasa kayak dokter aja gitu, secara bajunya putih. Ruangan paling favorite buat anak-anak baru itu, ya ruangan anak. Secara, pasiennya kan lucu-lucu, masih innocent pula, ngegemesin dech.
Abis selesei ngelilingin ruangan, Nayla cs jadi bingung sendiri mau ngapain. Bolak-balik, mondar-mandir gak jelas dech jadinya. Pengen banget nanya sama kakak-kakak, kira-kira apa ya yang mereka bisa bantu. Buang sampah juga nggak apa-apa dech, yang penting ada kerjaan (yaelah, nggak segitunya kali).
Finally, akhirnya, doa mereka diperkabulkan juga. Tiba-tiba aja kakak ruangan (perawat yang kerja di RS) ngasih perintah ke salah satu mahasiswa tingkat II untuk ngelepasin infusan. Trus, kakaknya juga nyuruh supaya ade-adenya (mahasiswa tingkat I) diajak juga. Nayla yang terbilang mahasiswa cukup aktif, inovatif, kreatif, sensitif, dan interaktif (hehehehe…kortif, korban tuntutan if), langsung aja ngikutin kakak mahasiswa yang tadi.
Hari itu kebetulan ada 3 orang yang infusnya kudu dilepas. Dengan gesit dan cekatannya, Nayla ngebuntutin kakak yang belakangan namanya diketahui bernama Kak Rifky. Nayla benar-benar memperhatikan Kak Rifky, upss….bukan, maksudnya memperhatikan cara Kak Rifky ngelepas infus. Abis ngeliatin Kak Rifky, maksudnya ngeliatin Kak Rifky lepas infus, Nayla langsung minta izin pengen coba juga. Eh, taunya diperbolehkan sama Sang Kakak. Duch, senengnya Nayla saat itu, secara ya, sekali lagi dan mungkin untuk yang kesekian kalinya bahkan mungkin akan diperbincangkan berkali-kali…nah lho?! Sampe mana ya tadi,…Oiya, maksudnya secara ini yang pertama kalinya. Buat Nayla yang masih baru pertama kali terjun langsung menghadapi pasien, moment tadi adalah moment paling bersejarah, dimana untuk pertama kalinya dia bisa melepaskan infus, udah gitu ya, dipandu sama Kak Rifky pula.
Sejak itu, Nayla jadi sering ngikut kemana Kak Rifky pergi. Kak Rifky ke ruangan, ngikut. Kak Rifki injeksi (nyuntik), ngikut. Kak Rifki duduk, ngikut. Kak Rifky ke WC aja yang Nayla nggak ikut. Di mata Nayla, Kak Rifky itu orangnya lucu, supel, baik, pinter, good looking juga. Yah, pokoknya gitu dech, Nayla jadi kagum sama dia. Hehehehe…. Kagum apa suka ya?!
****
Nayla anaknya emang supel, cepat banget akrab sama orang, termasuk sama Kak Rifky. Pokoknya dari sekian banyak Kakak-kakak mahasiswa, Nayla cuma paling akrab sama Kak Rifky. Apalagi setelah dapat kesempatan ngobrol-ngobrol puanjang sama Kak Rifky, jadi tambah akrab aja dech. Udah gitu, ternyata Nayla sama Kak Rifky asal dearahnya sama pula. Kak Rifky ternyata anaknya, saudaranya, orang tuanya, temannya, Nayla. Singkatnya, Kak Rifky itu sepupu temannya Nayla. (Ouw ouw ouw ouw….jalan terbuka lebar nich)
Hari itu juga, Nayla langsung konfirmasi ke temennya itu, perihal Kak Rifky. Dan hasilnya positif, Kak Rifky emang anaknya, saudaranya, orang tuanya, temannya Nayla. Temennya Nayla itu sempat nawarin buat nyomblangin Nayla sama Kak Rifky, tapi Naylanya ogah gitu. Sok jual mahal, padahal pengen juga. Sepertinya dia mau usaha sendiri dulu, entar kalo nggak bisa baru dech minta bantuan orang terdekat.
Hari-hari selanjutnya, Nayla tambah semangat aja dinas di Rumah Sakit. Apalagi, dia kebagian waktu dinas sama-sama kak Rifky. Kakak yang udah berjasa membimbing dia setiap kali mau melakukan tindakan, sekaligus menjadi Kakak yang dikaguminya. Hampir sebagian besar waktu dinasnya dihabiskan sama Kak Rifky, bahkan dia lebih sering terlihat dengan Kak Rifky daripada sama teman-temannya sendiri.
“Kak Rifky itu orangnya lucu, suka becanda. Udah gitu aku ngerasa nyambung sama dia, soalnya kan bahasa kita sama.” kata Nayla ke salah satu temannya.
“Cieee….suka ya???? Akrab banget sama kakaknya, sampai-sampai lupa sama temen sendiri.” sindir salah satu temannya.
“Hehehehehe….kalian tu yang ngilang. Aku kan dari tadi ngikutin Kak Rifky, bantuin dia gantiin perban.” kata Nayla, sambil tersipu-sipu.
“Ce ileh…duet maut ya sama Kakaknya, ganti perban.” ejek temannya.
Perbincangan mereka tiba-tiba terhenti karena ada iklan yang lewat, maaf bukan, maksudnya ada orang atau lebih tepatnya lagi kakak mahasiswa lain yang melintas di dekat mereka.
“Eh, kalo sama yang itu mau gak? Kakaknya putih lho, kayaknya juga pinter, abisnya sibuk banget ngedatengin pasien.” kata temannya, iseng.
“Sama Kakak yang lewat barusan?! Yeee…itu sich namanya memperkeruh keturunan. Udah tahu aku orangnya imut-imut, kalo seandainya sama Kakak yang tadi, bisa tambah imut aja keturunanku. Lagian tu orang kayaknya sok sibuk banget dech.” sahut Nayla, enteng.
“Yah, keruh?? Maksudnya apa Bu??? Air sungai kali,…” goda temannya.
Nayla cuma bisa tersipu malu saat itu. Sepertinya dia sudah menetapkan pilihan kepada Kak Rifky.
Namun di lain pihak, ternyata kedekatan Nayla dengan Kak Rifky menimbulkan perdengkian dan peririan (maksudnya rasa iri dan dengki gitu dech) dari Kakak mahasiswi yang sepertinya ngefans juga sama Kak Rifky. Nggak Percaya???? Makanya baca lagi ceritanya. Ini adalah salah satu bukti adanya rasa perdengkian dan peririan tersebut.
Pernah suatu hari, Nayla ditemani oleh salah seorang Kakak mahasiswi, mau melepas infus. Karena merasa udah pernah dan bisa, jadi Nayla yang ngelakuin tindakan tersebut. Tapi ternyata, ketika Nayla melepas infusan itu, tiba-tiba darah keluar bagaikan air yang keluar dari keran air. Darah pun menetes sampai membasahi lantai keramik yang berwarna putih. Tragedi berdarah ini sempat memicu sedikit kepanikan, dan untungnya pasien yang dilepas infusnya tadi tidak protes ataupun pingsan. Pasiennya nyantai aja kayak di pantai. Tapi yang protes justru Kakak mahasiswi tadi. Dia ngomong begini ni sama Nayla, “Makanya de, kalo dinas itu jangan kebanyakan ngobrol sama kakak perawat cowoknya”
Ugh..betapa tajamnya perkataan itu. Lebih tajam daripada silet. Menusuk! Lebih dalam daripada paku. Menyayat! Lebih sadis daripada lirik sebuah lagu (Tahu gak lagunya? Itu lho, Sadis by Afghan,…hehehehehe speechless nich).
Sebenarnya, menurut pengakuan kakak-kakak yang lain, hal seperti yang dialami Nayla itu wajar. Memang kadang-kadang darah suka keluar waktu infusnya dilepas.
Sejak saat itu, Nayla jadi trauma ngelepas infusan. Tapi untungnya traumanya nggak lama. Cuma beberapa jam aja.
****
Keesokan harinya, bahkan seterusnya, Nayla nggak dinas bareng lagi sama Kak Rifky. Dia ngerasa bête banget. Katanya, nggak asik kalo nggak ada Kak Rifky. Nayla cuma bisa ketemu Kak Rifky sebentar aja, di sela-sela pergantian jam dinas.
Udah gitu ya, Kak Rifky tiba-tiba berubah jadi jutek sama Nayla. Katanya Nayla sich, waktu itu dia nggak sengaja nginjak kaki Kak Rifky. Trus, bukannya memohon maaf sambil sujud kalo perlu, tapi Nayla justru ngomong gini, “sorry, sengaja!”
Yah, itulah akibat dari suatu perkataan. Bener juga kata mr. and mrs. pepatah, ur mouth is ur tiger…mulutmu, harimaumu. Padahal Nayla nggak pernah bermaksud ngobrol seperti itu. Dia bener-bener nggak sengaja. Mungkin waktu itu Kak Rifky lagi dapet. Yah, maksudnya lagi dapet masalah. Mungkin dia badmood karena ada masalah yang cukup amat sangat begitu berat. Makanya, jadi cepat esmosi gitu.
Nayla jadi nggak enak sama Kak Rifky. Pokoknya dia jadi bête banget dech. Udah nggak dinas bareng trus tambah dijutekin pula sama sang pujaan hati. Sekarang Nayla justru kebagian dinas bareng sama kakak yang bisa memperkeruh keturunannya. Buat Nayla, itu nggak asik banget.
Ngemeng-ngemeng, Kakak yang bisa memperkeruh keturunan Nayla itu juga punya nama lho. Namanya Kak Dicha. Sebenernya kalo di liat-liat, Kak Dicha itu cukup menarik. Udah gitu pinter pula, aktif, lincah dan multi talent kayak Agnes Monica. Tapi sayangnya, dia bisa bikin keturunan Nayla jadi keruh seperti air sungai yang udah terkontaminasi sama sampah organic dan anorganic. So, Kak Dicha nggak bisa masuk daftar cowok idaman Nayla dech.
****
Sepertinya Nayla harus menerima nasib nggak bisa bareng Kak Rifky lagi. Sekarang dia justru lebih sering bareng Kak Dicha yang super aktif itu. Banyak banget tindakan yang sering Kak Dicha lakukan. Kalo ada masalah dengan pasien, temen-temen kak Dicha pasti mengutus Kakak yang super duper aktif itu untuk menangani pasien. Karena selain rajin, kakaknya juga cerdas, terlatih dah pokoknya.
Suatu hari, Nayla ikut Kak Dicha ke ruangan pasien. Hari itu jadwalnya mengganti perban si pasien. Nayla pun menawarkan diri untuk membantu Kakaknya, jadi asisten kakaknya gitu dech. Yah, itung-itung cari pengalaman dan nambah ilmu.
Akan tetapi, sekali lagi, akan tetapi…Kak Dicha jusstru mempersuruhkan atau mempertugaskan Nayla untuk merawat luka pasien tersebut dan Kak Dicha entar yang jadi asisten sekaligus pembimbingnya. Otomatis Nayla jadi terkejut, agak gugup juga, secara for the first time (lagi-lagi dipersebutkan lagi kata-kata yang sama).
Begitulah, untuk pertama kalinya Nayla melakukan tindakan merawat luka, mengganti perban pasien. Semua berkat Kak Dicha yang membimbingnya.
Sejak saat itu Nayla jadi sering ngikut sama Kak Dicha. Dia banyak dapat ilmu dari Kak Dicha (bukan ilmu hitam, lho). Dengan seketika Nayla ngelupain Kak Rifky begitu aja. Dia justru terkagum-kagum sama Kak Dicha yang multi talenta itu. Ya ya ya, sepertinya sekarang Nayla jadi lebih suka sama Kak Dicha.
Hari itu adalah hari terakhir Nayla dinas bareng Kak Dicha dan kakak-kakak yang lainnya. Minggu depan, Nayla udah pindah ruangan lagi ke ruangan yang baru dan tentunya dengan kakak-kakak yang baru juga. Nayla sempat foto-foto bareng sama kakak-kakak disana. Rame-rame gitu dech. Nayla seneng banget waktu itu, sekaligus sedih juga sich. Soalnya kan harus pisah sama Kakak-kakaknya terutama sama Kak Dicha.
Begitulah akhirnya, Nayla berpisah sama Kak Dicha. Tanpa Kak Dicha tahu kalo Nayla mengagumi dirinya. Di ruangan yang baru dan dengan kakak-kakak yang baru juga, Nayla merasa asing dan kurang nyaman dengan suasananya. Menurutnya, seminggu bareng Kak Dicha cs itu adalah moment-moment yang paling asik dan menyenangkan.
Walau udah nggak dinas bareng Kak Dicha, tapi nggak ngerti kenapa, Nayla jadi tambah sering mikirin Kak Dicha. Padahal dulu dia cuma sebatas kagum aja. Udah gitu sempat ngina Kak Dicha pula. Nayla pu jadi tambah yakin kalau dia sebenarnya suka sama Kak Dicha. Sebenernya Nayla tahu kalo Kak Dicha udah punya cewek (pacar gitu dech) tapi, boleh apa buat, beras udah terlanjur menjadi nasi. Nayla nggak bisa ngilangin rasa simpatiknya ke Kak Dicha.
Mungkin ini yang dinamakan karma
Dulu ku benci dia sekarang sebaliknya
Mungkin kini aku kualat
Dulu ku hina dia sekarang memujanya
Cinta emang gila nggak pake logika
Datang tiba-tiba bikin sakit kepala
(Ini adalah sepenggal lirik lagu yang diciptakan khusus buat menggambarkan kisah cintanya Nayla)
Setiap hari, Nayla selalu aja kepikiran sama Kak Dicha. Rasanya seneng banget kalo bisa ngeliat Kak Dicha walaupun dari kejauah sekalipun. Makanya, kalo ada kesempatan istirahat makan sebentar waktu dinas, Nayla sering celingak-celinguk ke Ruangan tempat Kak Dicha dinas. Ya, syukur-syukur kalo bisa ngeliat Kakaknya, atau kalo beruntung bisa ngobrol bareng.
Dari hari ke hari perasaan itu jadi semakin kuat (ce ileh… kaya Hercules aja). Kak Dicha, Kak Dicha dan Kak Dicha. Ituuu aja yang ada di pikiran Nayla. Sampai suatu hari, Nayla berhasil ngedapetin nomor handphonenya Kak Dicha. Nayla seneng banget. Dia dapat nomor itu dari temen sekampusnya Kak Dicha yang kebetulan dulu pernah dinas bareng Nayla. Dengan alasan pengen nanya soal pelajaran sama Kak Dicha, dengan mudah Nayla bisa ngedapetin nomor handphone itu.
Setelah dapat nomornya, Nayla sempat ngubungin Kak Dicha dan mengaku jadi penggemar rahasianya. Tapi itu nggak bertahan lama. Abisnya Nayla itu orangnya suka to the point. Nggak suka yang berlete-lete (bertele-tele maksudnya). And finally, dia memberanikan diri menghubungi Kak Dicha dengan memakai namanya sendiri.
Yah, walaupun tiap sms mereka lebih sering bahas soal pelajaran, tapi Nayla tetep seneng. Dari sms-an itu juga, Nayla jadi tahu dimana rumahnya Kak Dicha. Ternyata alamat rumahnya ada suatu jalan gitu dah (hehehehe…rahasia!). Sedikit demi sedikit informasi tentang Kak Dicha akahirnya bisa Nayla dapatkan melalui sms-an itu dan tanya-tanya juga ke teman-temannya Kak Dicha.
Nayla berharap bisa lebih dekat lagi dengan Kak Dicha. Meskipun dia tahu kalau Kak Dicha itu udah punya pacar, tapi dia tetap usaha. Ya, sapa tahu aja Kakaknya ada masalah gitu sama ceweknya, trus putusan gitu. Kalo udah gitu kan, Nayla punya peluang. Emang sich kedengarannya rada kejam, tapi Nayla nggak pernah punya niat jahat koq. Dia selalu berdoa untuk yang terbaik. Apa aja kan bisa terjadi, nothing imposibble.
Don't you know that I want to be more than just your friend
Holding hands is fine
But I've got better things on my mind
You know it could happen
If you'd only see me in a different light
Baby when we finally get together
You will see that I was right
Say you love me
You know that it could be nice
If you'd only say you love me
Don't treat me like I was ice
Please love me
I'll be yours and you'll be mine
And if you'd only say you love me baby
Things would really work out fine
(Say you love me by M.Y.M.P)
Semangat Nayla buat ngedeketin Kak Dicha semakin berapi-api, hingga suatu ketika api itu tiba-tiba aja jadi redup dan padam.
Malam itu, Nayla nggak sengaja ngeliat Kak Dicha jalan bareng seorang cewek. Setelah melihat kejadian itu, Nayla iseng aja nanya Ke Kak Dicha. Dia pun ngirim sms dan bertanya apa cewek yang bersama Kak Dicha itu adalah pacarnya Kak Dicha, dan jawabannya…
Intinya, Kak Dicha bilang iya. Cewek itu memang pacar diaa. Dan yang bikin Nayla sakit hati, Kak Dicha juga bilang kalo dia nggak pernah jalan sama cewek lain kecuali pacarnya itu. Jadi, kalo ada liat Kak Dicha bareng cewek, berarti tidak perlu diragukan dan disangsikan lagi, pasti cewek yang bersamanya itu adalah pacarnya. Dari situ Nayla mulai mengerti, kalau sepertinya Kak Dicha itu adlah tipe cowok yang baik dan setia sama ceweknya.
Nayla jadi pengen mundur aja. Kayaknya udah nggak mungkin buat dia bisa ngedapetin cintanya Kak Dicha. Sediiiiiiiiih….banget rasanya kalo harus ngelupain orang yang disayang. Tapi mau gimana lagi. Seandainya aja waktu bisa diulang dan Nayla bisa lebih dulu ketemu Kak Dicha (tentunya ketemunya pas Kak Dicha jomblo, kalo ketemunya pas Kak Dicha udah punya cewek, ya percuma aja).
Buat Nayla saat ini, yang penting Kak Dicha bisa bahagia dengan pilihannya. Biar perasaannya itu menjadi rahasia dan kenangan terindah buatnya dan kak Dicha tidak perlu tahu soaal itu. Nayla berharap suatu saat nanti dia bisa menemukan seseorang yang bisa menggantikan posisi Kak Dicha di hatinya.
Tuhan, bantu aku melupakannya
Karna ku tahu tak mungkin aku memilikinya
Hanya sia-sia waktu terbuang
Telambat ku ungkapkan kata cinta kepadanya
Mungkin ini memang aku yang salah
Mencintaimu yang telah mendua
Ku tak kuasa bila harus menahan air mata
Namun tak kan pernah ku sesali
Mencintaimu yang teristimewa
Ku berharap kau bisa bahagia dengan dirinya
(Ini adalah lirik sebuah lagu yang ditulis penulis khusus untuk Nayla)
Don’t give up! Love will find you if you try

No comments:
Post a Comment