Myspace Graphics, MySpace Glitter Graphics, MySpace Glitters, MySpace Goodies, Myspace Codes at www.MyGlitterSpace.com

Sunday, 6 March 2011

Te Amor De Latino (Cinta Latin)

This is a story about love again. Di ambil dari kehidupan masyarakat Amerika Latino, tapi tenang aja, ceritanya udah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, koq. Jujur aja, sebenernya cerita ini diangkat dari kisah nyata “seseorang”, tetapi identitasnya dirahasiakan. Walaupun dari kisah nyata, tetapi dibuat seolah-olah lebih gimana gitu. Yah, pokoknya gitu, dech. Mengenai nama tokoh utamanya, terinspirasi dari nama ilmiah lalat buah, yaitu Drosophilla Melanogaster. Berikut ceritanya.





Di belahan bumi selatan (amerika latino) hiduplah sebuah keluarga bernama keluarga Villareal. Mereka mempunyai seorang anak gadis bernama Melanophilla Dellacosta Nevolita Villareal. Ketika anak gadis itu berusia kurang lebih 15 tahun, kedua orang tuanya mengirimkannya ke kota untuk mengenyam pendidikan di kota.
Di kota, Melanophilla tinggal bersama sepupunya yang sebelumnya telah lebih dulu menetap di kota. Melanophilla adalah gadis mungil yang pandai bergaul. Belum lama dia tinggal di kota, dia sudah mempunyai banyak teman.
Banyak pengalaman-pengalaman menarik yang dia dapatkan selama tinggal di kota. Hingga pada usianya yang menginjak 16 tahun dia menemui suatu masalah. Masalah kebatinannya yang terasa sepi. Dia pun menemui salah seorang sahabatnya bernama Esmeralda Calpucuino Deliciouso untuk meminta tolong mencarikan jodoh (ckckckckck baru 16 tahun udah mikirin jodoh?!).
“Esmeralda, sepertinya aku perlu bantuanmu.” keluh Melanophilla.
“Lalu, apa yang bisa ku bantu?” tanya Esmeralda.
“Begini, sebenarnya belakangan ini aku merasa malamku gelap, siangku terasa panas.”
“Itu persoalan yang sangat mudah. Pergilah ke toko tuan Pablo Eddison dan belilah sebuah lampu pijar untuk menerangi malammu. Setelah itu kau pergi ke toko elektronik yang berada di tengah-tengah pasar untuk membeli kipas anyaman made in Indonesia agar siangmu terasa sejuk”
“Bukan itu yang ku maksud. Maksudku, hari-hariku terasa hampa tanpa seseorang.”
“Oooohh, mau minta di comblangin, ya?! Ngomong donk dari tadi!”
Melanophilla senang karena Esmeralda mau menolongnya. Esmeralda pun menyebarkan brosur yang berisi biodata Melanophilla kepada kalngan-kalangan tertentu yang dikenalnya.

Beberapa hari kemudian, Melanophilla mendapatkan surat dari seorang lajang yang bermaksud berkenalan dengan Melanophilla (sebenernya pake SMS, tapi berhubung ceritanya zaman kuno, makanya pake surat aja). Lajang itu bernama Antonio Ernestino Fernandito Navarete Bonavarte. Tapi cukup dipanggil Antonio.
Namun setelah mereka bertemu, tak ada bunga-bunga cinta yang bersemi diantara mereka. Ternyata mereka belum jodoh. Begitu berat derita yang terpaksa ditanggung sendiri oleh Melanophilla. Hatinya kering, tandus tak berair. Tiada mata air yang membasuh taman di hatinya yang lembut selembut kasih ibu.
Tak lama kemudian, Melanophilla kembali berkenalan dengan seorang pria bernama Drosogaster Enrieque Santiago Del Piero Santoso. Tapi seperti kisahnya yang dulu dengan Antonio Ernestino Fernandito Navarete Bonavarte, kali ini Melanophilla Dellacosta Nevolita Villareal juga mengalami kegagalan cinta. Awalnya mereka sempat berkirim surat, namun karena sesuatu hal, akhirnya hubungan mereka sempat terputus. Ketika itu Drosogaster kehilangan pena bulu angsa kesayangannya yang selalu dipakainya untuk menulis apapun (maklumlah, cuma atu-atunya). Pena itu lenyap, hilang entah kemana, mungkin dicuri orang, karena pena itu harganya sangat mahal. Sejak pena itu hilang, Drosogaster tidak dapat lagi menulis surat untuk Melanophilla, padahal mereka belum sempat bertemu. Drosogaster pun tak tahu dimana kediaman Melanophila karena setiap mengirimkan surat dia hanya menitipkan surat tersebut kepada temannya. Kemudian temannya memberikan surat kepada tetangganya. Tetangganya mengirimkan lagi ke saudara sepupu tirinya, lalu dari saudara sepupu tirinya, surat itu dikirim lagi ke pedagang mie. Melalui pedagang mie, surat itu di kirimkan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, surat itu diberikan kepada suster disana. Dari suster tersebut barulah surat itu diberikan kepada Esmeralda (kebetulan si suster itu tetangganya Esmeralda). Lalu Esmeralda memberikannya kepada Melanophilla (Emang dasarnya zaman kuno. Ngirim surat aja, susahnya setengah mampus. Ckckckckckckckck).
****

Waktu terus berlalu, tak disangka tak diduga rupanya Drosogaster telah membeli pena baru lagi. Rupanya tabungannya sudah mencukupi untuk membeli pena baru. Dia pun mulai menulis surat lagi untuk Melanophilla. Isi suratnya seperti ini.



Melanophilla, sebelumnya aku minta maaf karena tidak membalas suratmu yang terakhir. Pena bulu angsaku hilang, karena itulah, aku tak bisa menulis lagi. Tapi, sekarang aku telah membeli pena yang baru, lebih mahal dan kualitasnya pun lebih terjamin karena struktunya lebih kuat daripada pena bulu angsaku yang dulu. Pena baruku ini terbuat dari bulu landak Afrika Selatan yang tentunya anti maling. Oiya, penanya limited edition, lho. Kalau kamu mau, aku bisa pesanin, kok. Kebetulan yang jual pena ini pamanku. Nanti aku diskon setengah harga, dech. Terus, aku antar langsung ke rumah kamu.
Ngomong-ngomong soal rumah, aku belum tahu dimana rumah kamu. Nanti, saat kamu membalas suratku, jangan lupa tuliskan juga alamat. Setelah itu, kita bisa dengan mudah berkomunikasi.
Sekian dulu surat dariku. Jangan lupa ya, kalau mau beli pena, kirimkan surat beserta biaya registrasinya. Murah kok, cuma gope.

Salam Manis


Drosogaster




Melanophilla sangat senang ketika menerima surat itu. Yach, walaupun Si Drosogaster kebanyakan promosi pena, tapi it’s okay lah, sah-sah aja.
Lambat laun, akhirnya meraka sepakat untuk bertemu. Face to face, door to door, step by step. Setelah bertemu satu kali saja, besoknya mereka langsung jadian. Sungguh singkat, bukan?! Mereka berdua sangat bahagia. Akhirnya hari-hari sepi itu terhapus jua dengan adanya teman special yang selalu menemani. Namun, ada satu hal yang membuat keduanya sama-sama kesal. Tahu nggak, apaan? Jadi begini, ternyata, rumah mereka itu deketan lho, nggak begitu jauh. Kalau tahu begitu, pasti hubungan mereka nggak akan terputus, kan. Selama ini Drosogaster tinggal di sebuah komplek perumahan yang letaknya tak jauh dari rumah Melanophilla. Hanya dengan berkuda selama 30 menit, mereka sudah bisa bertemu. Bahkan, kalau si kuda udah diumpanin dengan makan favoritnya, pepes kentang rumput ilalang, kudanya bakalan lari lebih kuenceng. Jadi cuma memakan waktu perjalanan selama 15 menit. Tapi, konsekuensinya si kuda pasti bakalan buang muatan perutnya di sembarang tempat. Makanya, daripada bau disana-sini, mendingan kudanya jangan dikasih makan dulu. Nanti kalau sudah pulang ke rumah, baru dech kudanya dikasih makan.
Loh, koq jadi ngomongin kuda?! Matahari lenyapkan gelap, I’m sorry, I’m khilaf. Ya udah dech, kita kembali ke ceritanya.
Akhirnya cinta mereka bersatu padu juga. Tak ada dinding penghalang lagi untuk mereka. Hampir setiap hari mereka bertemu (maklumlah, rumahnya kan deketan). Melanophilla selalu terlihat bahagia setiap hari. Dia selalu menebar senyum dimana-mana. Ketemu teman, senyum. Ketemu guru, senyum. Ketemu kodok, senyum. Mau makan, senyum (khusus yang satu ini, jangan ditiru! Seharusnya kalo mau makan itu berdoa dulu). Mau sikat gigi juga senyum. Pokoknya senyuuuuummm melulu, ampe kering tu gigi.
Berbeda dengan kekasihnya Melanophilla, Drosogaster tetap stay cool aja, tuch.
“Gue sich orangnya asik-asik aja.” katanya saat diwawancarai salah satu media cetak di zaman itu. Tapi, walaupun demikian, Drosogaster tetap memberikan perhatian yang penuh kepada sang kekasih. Tah heran jika Melanophilla tambah sayang aja sama dia.

Yang namanya “hubungan special” itu nggak selamanya seneng terus. Melanophilla dan Drosogaster juga pernah mengalami jatuh bangun dalam membina hubungan yang belum diresmikan ke jenjang yang lebih gimana gitu, secara mereka masih terlalu muda untuk menikah. Selama ini Droso dan Melano pacaran secara diam-diam kalo bahasa zaman perang dulu sich, “secara gerilya”, tapi kalo bahasa anak muda zaman sekarang ini, lebih dikenal dengan istilah “backstreet” (mari kita coba artikan. Back = di belakang ; street = jalan ; berarti backstreet artinya pacaran di belakang jalan).
Teman-teman dekat sampai yang nggak begitu dekat memang sudah mengetahui tentang hubungan mereka. Tapi kedua orang tuanya Melanophilla sama sekali tidak tahu menahu tentang keberadaan hubungan special itu. Mungkin Melanophilla merahasiakan hal tersebut karena takut hubungannya tidak direstui, mengingat usia keduanya masih terlalu belia.
Ketika orang tua Melanophilla berkunjung ke kota, Droso pun harus menahan diri untuk bertemu dengan sang kekasih. Untung aja ada pena bulu landak sama kertas burem yang selalu setia menjadi satu-satunya alat komunikasi mereka.
Sampai sekarang mereka masih pacaran dan masih “backstreet” juga. Yah, jika memang berjodoh maka sebesar apapun rintangan yang dihadapi, pasti akan teratasi oleh kekuatan cinta mereka. Tapi kalo boleh ngasih saran sich, supaya hubungannya awet sampe aki nini, ada baiknya jika mencoba metode yang satu ini. Metode lama sich, tapi top cer. Jadi begini, kepada keduanya disarankan untuk rajin-rajin pake balsem. Cara ini dipercaya masyarakat mesir kuno untuk mengawetkan orang yang udah mati. Yah, sapa tahu aja bisa ngawetin hubungan seseorang. Nggak ada salahnya kan untuk nyoba.
Udah ahh, cape. Sekian dulu ceritanya ya….

No comments:

Post a Comment