I can be tough
I can be strong
But with you, It's not like that at all
Theres a girl who gives a shit
Behind this wall
You just walk through it
[refrain]
And I remember all those crazy thing you said
You left them running through my head
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here
All those crazy things we did
Didn't think about it just went with it
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here
[chorus]
Damn, Damn, Damn,
What I'd do to have you
Here, Here, Here
I wish you were here
Damn, Damn, Damn,
What I'd do to have you
Near, Near, Near
I wish you were here.
I love the way you are
It's who I am don't have to try hard
We always say, Say like it is
And the truth is that I really miss
[refrain]
Avril Lavigne Wish You Were Here lyrics found on http://www.directlyrics.com/avril-lavigne-wish-you-were-here-lyrics.html
All those crazy thing you said
You left them running through my head
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here
All those crazy things we did
Didn't think about it just went with it
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here
[chorus]
Damn, Damn, Damn,
What I'd do to have you
Here, Here, Here
I wish you were here
Damn, Damn, Damn,
What I'd do to have you
Near, Near, Near
I wish you were here.
[bridge]
No, I don't wanna let go
I just wanna let you know
That I never wanna let go
Let go, Oh, Oh,
No, I don't wanna let go
I just wanna let you know
That I never wanna let go
Let go, Let go, Let go...
[chorus]
Damn, Damn, Damn,
What I'd do to have you
Here, Here, Here
I wish you were here
Damn, Damn, Damn,
What I'd do to have you
Near, Near, Near
I wish you were here.
Sunday, 6 March 2011
Te Amor De Latino (Cinta Latin)
This is a story about love again. Di ambil dari kehidupan masyarakat Amerika Latino, tapi tenang aja, ceritanya udah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, koq. Jujur aja, sebenernya cerita ini diangkat dari kisah nyata “seseorang”, tetapi identitasnya dirahasiakan. Walaupun dari kisah nyata, tetapi dibuat seolah-olah lebih gimana gitu. Yah, pokoknya gitu, dech. Mengenai nama tokoh utamanya, terinspirasi dari nama ilmiah lalat buah, yaitu Drosophilla Melanogaster. Berikut ceritanya.
Di belahan bumi selatan (amerika latino) hiduplah sebuah keluarga bernama keluarga Villareal. Mereka mempunyai seorang anak gadis bernama Melanophilla Dellacosta Nevolita Villareal. Ketika anak gadis itu berusia kurang lebih 15 tahun, kedua orang tuanya mengirimkannya ke kota untuk mengenyam pendidikan di kota.
Di kota, Melanophilla tinggal bersama sepupunya yang sebelumnya telah lebih dulu menetap di kota. Melanophilla adalah gadis mungil yang pandai bergaul. Belum lama dia tinggal di kota, dia sudah mempunyai banyak teman.
Banyak pengalaman-pengalaman menarik yang dia dapatkan selama tinggal di kota. Hingga pada usianya yang menginjak 16 tahun dia menemui suatu masalah. Masalah kebatinannya yang terasa sepi. Dia pun menemui salah seorang sahabatnya bernama Esmeralda Calpucuino Deliciouso untuk meminta tolong mencarikan jodoh (ckckckckck baru 16 tahun udah mikirin jodoh?!).
“Esmeralda, sepertinya aku perlu bantuanmu.” keluh Melanophilla.
“Lalu, apa yang bisa ku bantu?” tanya Esmeralda.
“Begini, sebenarnya belakangan ini aku merasa malamku gelap, siangku terasa panas.”
“Itu persoalan yang sangat mudah. Pergilah ke toko tuan Pablo Eddison dan belilah sebuah lampu pijar untuk menerangi malammu. Setelah itu kau pergi ke toko elektronik yang berada di tengah-tengah pasar untuk membeli kipas anyaman made in Indonesia agar siangmu terasa sejuk”
“Bukan itu yang ku maksud. Maksudku, hari-hariku terasa hampa tanpa seseorang.”
“Oooohh, mau minta di comblangin, ya?! Ngomong donk dari tadi!”
Melanophilla senang karena Esmeralda mau menolongnya. Esmeralda pun menyebarkan brosur yang berisi biodata Melanophilla kepada kalngan-kalangan tertentu yang dikenalnya.
Beberapa hari kemudian, Melanophilla mendapatkan surat dari seorang lajang yang bermaksud berkenalan dengan Melanophilla (sebenernya pake SMS, tapi berhubung ceritanya zaman kuno, makanya pake surat aja). Lajang itu bernama Antonio Ernestino Fernandito Navarete Bonavarte. Tapi cukup dipanggil Antonio.
Namun setelah mereka bertemu, tak ada bunga-bunga cinta yang bersemi diantara mereka. Ternyata mereka belum jodoh. Begitu berat derita yang terpaksa ditanggung sendiri oleh Melanophilla. Hatinya kering, tandus tak berair. Tiada mata air yang membasuh taman di hatinya yang lembut selembut kasih ibu.
Tak lama kemudian, Melanophilla kembali berkenalan dengan seorang pria bernama Drosogaster Enrieque Santiago Del Piero Santoso. Tapi seperti kisahnya yang dulu dengan Antonio Ernestino Fernandito Navarete Bonavarte, kali ini Melanophilla Dellacosta Nevolita Villareal juga mengalami kegagalan cinta. Awalnya mereka sempat berkirim surat, namun karena sesuatu hal, akhirnya hubungan mereka sempat terputus. Ketika itu Drosogaster kehilangan pena bulu angsa kesayangannya yang selalu dipakainya untuk menulis apapun (maklumlah, cuma atu-atunya). Pena itu lenyap, hilang entah kemana, mungkin dicuri orang, karena pena itu harganya sangat mahal. Sejak pena itu hilang, Drosogaster tidak dapat lagi menulis surat untuk Melanophilla, padahal mereka belum sempat bertemu. Drosogaster pun tak tahu dimana kediaman Melanophila karena setiap mengirimkan surat dia hanya menitipkan surat tersebut kepada temannya. Kemudian temannya memberikan surat kepada tetangganya. Tetangganya mengirimkan lagi ke saudara sepupu tirinya, lalu dari saudara sepupu tirinya, surat itu dikirim lagi ke pedagang mie. Melalui pedagang mie, surat itu di kirimkan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, surat itu diberikan kepada suster disana. Dari suster tersebut barulah surat itu diberikan kepada Esmeralda (kebetulan si suster itu tetangganya Esmeralda). Lalu Esmeralda memberikannya kepada Melanophilla (Emang dasarnya zaman kuno. Ngirim surat aja, susahnya setengah mampus. Ckckckckckckckck).
****
Waktu terus berlalu, tak disangka tak diduga rupanya Drosogaster telah membeli pena baru lagi. Rupanya tabungannya sudah mencukupi untuk membeli pena baru. Dia pun mulai menulis surat lagi untuk Melanophilla. Isi suratnya seperti ini.
Melanophilla, sebelumnya aku minta maaf karena tidak membalas suratmu yang terakhir. Pena bulu angsaku hilang, karena itulah, aku tak bisa menulis lagi. Tapi, sekarang aku telah membeli pena yang baru, lebih mahal dan kualitasnya pun lebih terjamin karena struktunya lebih kuat daripada pena bulu angsaku yang dulu. Pena baruku ini terbuat dari bulu landak Afrika Selatan yang tentunya anti maling. Oiya, penanya limited edition, lho. Kalau kamu mau, aku bisa pesanin, kok. Kebetulan yang jual pena ini pamanku. Nanti aku diskon setengah harga, dech. Terus, aku antar langsung ke rumah kamu.
Ngomong-ngomong soal rumah, aku belum tahu dimana rumah kamu. Nanti, saat kamu membalas suratku, jangan lupa tuliskan juga alamat. Setelah itu, kita bisa dengan mudah berkomunikasi.
Sekian dulu surat dariku. Jangan lupa ya, kalau mau beli pena, kirimkan surat beserta biaya registrasinya. Murah kok, cuma gope.
Salam Manis
Drosogaster
Melanophilla sangat senang ketika menerima surat itu. Yach, walaupun Si Drosogaster kebanyakan promosi pena, tapi it’s okay lah, sah-sah aja.
Lambat laun, akhirnya meraka sepakat untuk bertemu. Face to face, door to door, step by step. Setelah bertemu satu kali saja, besoknya mereka langsung jadian. Sungguh singkat, bukan?! Mereka berdua sangat bahagia. Akhirnya hari-hari sepi itu terhapus jua dengan adanya teman special yang selalu menemani. Namun, ada satu hal yang membuat keduanya sama-sama kesal. Tahu nggak, apaan? Jadi begini, ternyata, rumah mereka itu deketan lho, nggak begitu jauh. Kalau tahu begitu, pasti hubungan mereka nggak akan terputus, kan. Selama ini Drosogaster tinggal di sebuah komplek perumahan yang letaknya tak jauh dari rumah Melanophilla. Hanya dengan berkuda selama 30 menit, mereka sudah bisa bertemu. Bahkan, kalau si kuda udah diumpanin dengan makan favoritnya, pepes kentang rumput ilalang, kudanya bakalan lari lebih kuenceng. Jadi cuma memakan waktu perjalanan selama 15 menit. Tapi, konsekuensinya si kuda pasti bakalan buang muatan perutnya di sembarang tempat. Makanya, daripada bau disana-sini, mendingan kudanya jangan dikasih makan dulu. Nanti kalau sudah pulang ke rumah, baru dech kudanya dikasih makan.
Loh, koq jadi ngomongin kuda?! Matahari lenyapkan gelap, I’m sorry, I’m khilaf. Ya udah dech, kita kembali ke ceritanya.
Akhirnya cinta mereka bersatu padu juga. Tak ada dinding penghalang lagi untuk mereka. Hampir setiap hari mereka bertemu (maklumlah, rumahnya kan deketan). Melanophilla selalu terlihat bahagia setiap hari. Dia selalu menebar senyum dimana-mana. Ketemu teman, senyum. Ketemu guru, senyum. Ketemu kodok, senyum. Mau makan, senyum (khusus yang satu ini, jangan ditiru! Seharusnya kalo mau makan itu berdoa dulu). Mau sikat gigi juga senyum. Pokoknya senyuuuuummm melulu, ampe kering tu gigi.
Berbeda dengan kekasihnya Melanophilla, Drosogaster tetap stay cool aja, tuch.
“Gue sich orangnya asik-asik aja.” katanya saat diwawancarai salah satu media cetak di zaman itu. Tapi, walaupun demikian, Drosogaster tetap memberikan perhatian yang penuh kepada sang kekasih. Tah heran jika Melanophilla tambah sayang aja sama dia.
Yang namanya “hubungan special” itu nggak selamanya seneng terus. Melanophilla dan Drosogaster juga pernah mengalami jatuh bangun dalam membina hubungan yang belum diresmikan ke jenjang yang lebih gimana gitu, secara mereka masih terlalu muda untuk menikah. Selama ini Droso dan Melano pacaran secara diam-diam kalo bahasa zaman perang dulu sich, “secara gerilya”, tapi kalo bahasa anak muda zaman sekarang ini, lebih dikenal dengan istilah “backstreet” (mari kita coba artikan. Back = di belakang ; street = jalan ; berarti backstreet artinya pacaran di belakang jalan).
Teman-teman dekat sampai yang nggak begitu dekat memang sudah mengetahui tentang hubungan mereka. Tapi kedua orang tuanya Melanophilla sama sekali tidak tahu menahu tentang keberadaan hubungan special itu. Mungkin Melanophilla merahasiakan hal tersebut karena takut hubungannya tidak direstui, mengingat usia keduanya masih terlalu belia.
Ketika orang tua Melanophilla berkunjung ke kota, Droso pun harus menahan diri untuk bertemu dengan sang kekasih. Untung aja ada pena bulu landak sama kertas burem yang selalu setia menjadi satu-satunya alat komunikasi mereka.
Sampai sekarang mereka masih pacaran dan masih “backstreet” juga. Yah, jika memang berjodoh maka sebesar apapun rintangan yang dihadapi, pasti akan teratasi oleh kekuatan cinta mereka. Tapi kalo boleh ngasih saran sich, supaya hubungannya awet sampe aki nini, ada baiknya jika mencoba metode yang satu ini. Metode lama sich, tapi top cer. Jadi begini, kepada keduanya disarankan untuk rajin-rajin pake balsem. Cara ini dipercaya masyarakat mesir kuno untuk mengawetkan orang yang udah mati. Yah, sapa tahu aja bisa ngawetin hubungan seseorang. Nggak ada salahnya kan untuk nyoba.
Udah ahh, cape. Sekian dulu ceritanya ya….
Di belahan bumi selatan (amerika latino) hiduplah sebuah keluarga bernama keluarga Villareal. Mereka mempunyai seorang anak gadis bernama Melanophilla Dellacosta Nevolita Villareal. Ketika anak gadis itu berusia kurang lebih 15 tahun, kedua orang tuanya mengirimkannya ke kota untuk mengenyam pendidikan di kota.
Di kota, Melanophilla tinggal bersama sepupunya yang sebelumnya telah lebih dulu menetap di kota. Melanophilla adalah gadis mungil yang pandai bergaul. Belum lama dia tinggal di kota, dia sudah mempunyai banyak teman.
Banyak pengalaman-pengalaman menarik yang dia dapatkan selama tinggal di kota. Hingga pada usianya yang menginjak 16 tahun dia menemui suatu masalah. Masalah kebatinannya yang terasa sepi. Dia pun menemui salah seorang sahabatnya bernama Esmeralda Calpucuino Deliciouso untuk meminta tolong mencarikan jodoh (ckckckckck baru 16 tahun udah mikirin jodoh?!).
“Esmeralda, sepertinya aku perlu bantuanmu.” keluh Melanophilla.
“Lalu, apa yang bisa ku bantu?” tanya Esmeralda.
“Begini, sebenarnya belakangan ini aku merasa malamku gelap, siangku terasa panas.”
“Itu persoalan yang sangat mudah. Pergilah ke toko tuan Pablo Eddison dan belilah sebuah lampu pijar untuk menerangi malammu. Setelah itu kau pergi ke toko elektronik yang berada di tengah-tengah pasar untuk membeli kipas anyaman made in Indonesia agar siangmu terasa sejuk”
“Bukan itu yang ku maksud. Maksudku, hari-hariku terasa hampa tanpa seseorang.”
“Oooohh, mau minta di comblangin, ya?! Ngomong donk dari tadi!”
Melanophilla senang karena Esmeralda mau menolongnya. Esmeralda pun menyebarkan brosur yang berisi biodata Melanophilla kepada kalngan-kalangan tertentu yang dikenalnya.
Beberapa hari kemudian, Melanophilla mendapatkan surat dari seorang lajang yang bermaksud berkenalan dengan Melanophilla (sebenernya pake SMS, tapi berhubung ceritanya zaman kuno, makanya pake surat aja). Lajang itu bernama Antonio Ernestino Fernandito Navarete Bonavarte. Tapi cukup dipanggil Antonio.
Namun setelah mereka bertemu, tak ada bunga-bunga cinta yang bersemi diantara mereka. Ternyata mereka belum jodoh. Begitu berat derita yang terpaksa ditanggung sendiri oleh Melanophilla. Hatinya kering, tandus tak berair. Tiada mata air yang membasuh taman di hatinya yang lembut selembut kasih ibu.
Tak lama kemudian, Melanophilla kembali berkenalan dengan seorang pria bernama Drosogaster Enrieque Santiago Del Piero Santoso. Tapi seperti kisahnya yang dulu dengan Antonio Ernestino Fernandito Navarete Bonavarte, kali ini Melanophilla Dellacosta Nevolita Villareal juga mengalami kegagalan cinta. Awalnya mereka sempat berkirim surat, namun karena sesuatu hal, akhirnya hubungan mereka sempat terputus. Ketika itu Drosogaster kehilangan pena bulu angsa kesayangannya yang selalu dipakainya untuk menulis apapun (maklumlah, cuma atu-atunya). Pena itu lenyap, hilang entah kemana, mungkin dicuri orang, karena pena itu harganya sangat mahal. Sejak pena itu hilang, Drosogaster tidak dapat lagi menulis surat untuk Melanophilla, padahal mereka belum sempat bertemu. Drosogaster pun tak tahu dimana kediaman Melanophila karena setiap mengirimkan surat dia hanya menitipkan surat tersebut kepada temannya. Kemudian temannya memberikan surat kepada tetangganya. Tetangganya mengirimkan lagi ke saudara sepupu tirinya, lalu dari saudara sepupu tirinya, surat itu dikirim lagi ke pedagang mie. Melalui pedagang mie, surat itu di kirimkan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, surat itu diberikan kepada suster disana. Dari suster tersebut barulah surat itu diberikan kepada Esmeralda (kebetulan si suster itu tetangganya Esmeralda). Lalu Esmeralda memberikannya kepada Melanophilla (Emang dasarnya zaman kuno. Ngirim surat aja, susahnya setengah mampus. Ckckckckckckckck).
****
Waktu terus berlalu, tak disangka tak diduga rupanya Drosogaster telah membeli pena baru lagi. Rupanya tabungannya sudah mencukupi untuk membeli pena baru. Dia pun mulai menulis surat lagi untuk Melanophilla. Isi suratnya seperti ini.
Melanophilla, sebelumnya aku minta maaf karena tidak membalas suratmu yang terakhir. Pena bulu angsaku hilang, karena itulah, aku tak bisa menulis lagi. Tapi, sekarang aku telah membeli pena yang baru, lebih mahal dan kualitasnya pun lebih terjamin karena struktunya lebih kuat daripada pena bulu angsaku yang dulu. Pena baruku ini terbuat dari bulu landak Afrika Selatan yang tentunya anti maling. Oiya, penanya limited edition, lho. Kalau kamu mau, aku bisa pesanin, kok. Kebetulan yang jual pena ini pamanku. Nanti aku diskon setengah harga, dech. Terus, aku antar langsung ke rumah kamu.
Ngomong-ngomong soal rumah, aku belum tahu dimana rumah kamu. Nanti, saat kamu membalas suratku, jangan lupa tuliskan juga alamat. Setelah itu, kita bisa dengan mudah berkomunikasi.
Sekian dulu surat dariku. Jangan lupa ya, kalau mau beli pena, kirimkan surat beserta biaya registrasinya. Murah kok, cuma gope.
Salam Manis
Drosogaster
Melanophilla sangat senang ketika menerima surat itu. Yach, walaupun Si Drosogaster kebanyakan promosi pena, tapi it’s okay lah, sah-sah aja.
Lambat laun, akhirnya meraka sepakat untuk bertemu. Face to face, door to door, step by step. Setelah bertemu satu kali saja, besoknya mereka langsung jadian. Sungguh singkat, bukan?! Mereka berdua sangat bahagia. Akhirnya hari-hari sepi itu terhapus jua dengan adanya teman special yang selalu menemani. Namun, ada satu hal yang membuat keduanya sama-sama kesal. Tahu nggak, apaan? Jadi begini, ternyata, rumah mereka itu deketan lho, nggak begitu jauh. Kalau tahu begitu, pasti hubungan mereka nggak akan terputus, kan. Selama ini Drosogaster tinggal di sebuah komplek perumahan yang letaknya tak jauh dari rumah Melanophilla. Hanya dengan berkuda selama 30 menit, mereka sudah bisa bertemu. Bahkan, kalau si kuda udah diumpanin dengan makan favoritnya, pepes kentang rumput ilalang, kudanya bakalan lari lebih kuenceng. Jadi cuma memakan waktu perjalanan selama 15 menit. Tapi, konsekuensinya si kuda pasti bakalan buang muatan perutnya di sembarang tempat. Makanya, daripada bau disana-sini, mendingan kudanya jangan dikasih makan dulu. Nanti kalau sudah pulang ke rumah, baru dech kudanya dikasih makan.
Loh, koq jadi ngomongin kuda?! Matahari lenyapkan gelap, I’m sorry, I’m khilaf. Ya udah dech, kita kembali ke ceritanya.
Akhirnya cinta mereka bersatu padu juga. Tak ada dinding penghalang lagi untuk mereka. Hampir setiap hari mereka bertemu (maklumlah, rumahnya kan deketan). Melanophilla selalu terlihat bahagia setiap hari. Dia selalu menebar senyum dimana-mana. Ketemu teman, senyum. Ketemu guru, senyum. Ketemu kodok, senyum. Mau makan, senyum (khusus yang satu ini, jangan ditiru! Seharusnya kalo mau makan itu berdoa dulu). Mau sikat gigi juga senyum. Pokoknya senyuuuuummm melulu, ampe kering tu gigi.
Berbeda dengan kekasihnya Melanophilla, Drosogaster tetap stay cool aja, tuch.
“Gue sich orangnya asik-asik aja.” katanya saat diwawancarai salah satu media cetak di zaman itu. Tapi, walaupun demikian, Drosogaster tetap memberikan perhatian yang penuh kepada sang kekasih. Tah heran jika Melanophilla tambah sayang aja sama dia.
Yang namanya “hubungan special” itu nggak selamanya seneng terus. Melanophilla dan Drosogaster juga pernah mengalami jatuh bangun dalam membina hubungan yang belum diresmikan ke jenjang yang lebih gimana gitu, secara mereka masih terlalu muda untuk menikah. Selama ini Droso dan Melano pacaran secara diam-diam kalo bahasa zaman perang dulu sich, “secara gerilya”, tapi kalo bahasa anak muda zaman sekarang ini, lebih dikenal dengan istilah “backstreet” (mari kita coba artikan. Back = di belakang ; street = jalan ; berarti backstreet artinya pacaran di belakang jalan).
Teman-teman dekat sampai yang nggak begitu dekat memang sudah mengetahui tentang hubungan mereka. Tapi kedua orang tuanya Melanophilla sama sekali tidak tahu menahu tentang keberadaan hubungan special itu. Mungkin Melanophilla merahasiakan hal tersebut karena takut hubungannya tidak direstui, mengingat usia keduanya masih terlalu belia.
Ketika orang tua Melanophilla berkunjung ke kota, Droso pun harus menahan diri untuk bertemu dengan sang kekasih. Untung aja ada pena bulu landak sama kertas burem yang selalu setia menjadi satu-satunya alat komunikasi mereka.
Sampai sekarang mereka masih pacaran dan masih “backstreet” juga. Yah, jika memang berjodoh maka sebesar apapun rintangan yang dihadapi, pasti akan teratasi oleh kekuatan cinta mereka. Tapi kalo boleh ngasih saran sich, supaya hubungannya awet sampe aki nini, ada baiknya jika mencoba metode yang satu ini. Metode lama sich, tapi top cer. Jadi begini, kepada keduanya disarankan untuk rajin-rajin pake balsem. Cara ini dipercaya masyarakat mesir kuno untuk mengawetkan orang yang udah mati. Yah, sapa tahu aja bisa ngawetin hubungan seseorang. Nggak ada salahnya kan untuk nyoba.
Udah ahh, cape. Sekian dulu ceritanya ya….
Cinta Abstrak
This is a true story about love. Ngomongin “cinta” memang gak akan pernah ada habisnya. Setiap orang pernah mengalami yang namanya “cinta” dan setiap pengalaman cinta itu punya kisah-kisah berbeda yang sangat menarik. Seperti cerita yang satu ini. Kisah cinta yang dialami dua insan manusia yang terpaut usia yang cukup jauh dan kurang jelas juga, arah dan tujuannya.
Katya (nama samaran) berusia 17 dan masih berstatus sebagai pelajar disalah satu sekolah menengah atas negeri di kota tempat tinggalnya. Selayaknya seorang anak gadis yang telah memasuki usia remaja, Katya mulai merasakan sesuatu yang gimanaaaaa…….gitu. Diusianya yang masih belasan dulu (maksudnya di bawah 17 thn), Katya pernah mengalami beraneka ragam kisah cinta yang ujung-ujungnya terpaksa kandas di tengah jalan. Bahagia, riang, gembira, sepi, kecewa, dan kesedihan karena cinta, sudah dia pernah dia rasakan.
T’lah ku temui banyak cinta.
Dihati ini datang dan pergi.
Selimuti kisahku yang biru,
mendalam di hati……..
Karena cinta aku jadi sepi…
Karena cinta aku jadi riang…
Karena cinta aku jadi pilu…
Karena cinta kini sendiri…
Karena cinta pelangiku hilang…
Karena cinta matahari pergi…
Namun ku yakin dalam hatiku,
Cintaku tak boleh membunuhku.
(Karena Cinta by Laudya C. Bella)
Namun, perjalan cintanya yang sesungguhnya baru akan dimulai pada awal tahun 2007 ini.
Pada waktu itu, tepat tanggal 31 Desember 2006, Katya dan teman-temannya berencana untuk merayakan pergantian tahun bersama-sama.
Malamnya, mereka pergi keluar tanpa arah (maklumlah, anak muda, rencananya belum mateng), sebentar-sebentar kesini, sebentar-sebentar kesana. Sampai pada akhir, ketika waktu hampir menunjukkan pukul 00.00, hujan rintik gerimis turun membasahi belahan bumi tempat Katya dan teman-temannya berpijak. Terpaksa mereka berteduh di rumah salah satu teman Katya yang bernama Lizzy (panggilannya Liz! Ingat, just Liz! Jangan diucapkan 2 kali, soalnya ntar berubah menjadi Liliz). Kebetulan di rumah Lizzy juga sedang ada hajatan menyambut tahun baru. Beberapa keluarganya berkumpul di rumah Lizzy. Mulai dari kakek nenek om tante paman bibi keponakan sepupu cicit dan seterusnya (sebenarnya gak sebanyak itu, yah supaya kelihatan lebih berbobot aja gitu. Gpp kan sedikit dilebih-lebihkan).
Lumayan lama juga, Katya cs mengungsi di rumah Lizzy. Ketika itu mereka duduk di teras depan rumah sambil menikmati sate ayam. Abis makan mereka main gitar, nyanyi gak jelas gitu dech. Suddenly, atau tiba-tiba Katya menangkap sesosok makhluk ajaib. Kenapa dikatakan ajaib? Soalnya Katya nggak pernah nyangka bisa ketemu sama makhluk yang sebelumnya pernah dia lihat fotonya di handphonenya Lizzy. Sesosok makhluk berjenis kelamin jantan yang so cute banget di mata Katya. Namanya Awan, wajahnya cukup rupawan, senyumnya menawan, orangnya dermawan, dan kulitnya tak seputih awan.
Singkat kata, mereka kenalan dech. Katya malu-malu gitu (malu tapi mau banget!!!!). Pas jabatan tangan, kedua tangan mereka menyatu , dan mereka pun beradu pandang. Senyuman terpancar dari wajah keduanya. Sepertinya ada aliran listrik illegal yang sama-sama dirasakan keduanya pada saat itu.
Terpesona…ku pada pandangan pertama
Dan tak kuasa menahan rinduku
Senyumanmu slalu menghiasi mimpiku
Ingin ku peluk dan ku kecup keningmu….
(Terpesona by Audy ft. Glenn Freddly)
Sejak kejadian atau lebih tepatnya lagi sejak pertemuan di malam tahun baru itu, Katya dan Awan mulai dekat. Melalui Lizzy, Awan mulai bertanya tentang perihal Katya. Nampaknya, Awan juga merasakan apa yang dirakan Katya. Pertanyaannya, apakah yang dirasakan Katya itu? Apakah itu cinta? Atau hanya sebatas rasa kagum?
Ku akui tubuhku melunglai
Sempat ku memuji dalam hatiku
Jangan pikir aku kan mencinta
Ku hanya kagumi
Hanya memuji
(Hanya Memuji by Shanty ft. Marcel)
Awan yang pada saat itu masih berstatus mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi di luar kota, terpaksa meninggalkan kota tempat tinggalnya yang kebetulan kota tempat tinggalnya Katya juga. Semua itu dia lakukan supaya bisa cepat lulus dari perguruan tinggi, terus kerja, nach setelah itu, barulah menikah.
Jarak dan perbedaan waktu selama 1 jam tidak menjadi kendala bagi mereka untuk saling menjalin hubungan yang pada saat itu masih belum jelas. Untungnya dizaman sekarang ini sudah banyak telepon genggam atau handphone yang terbilang canggih sehingga mereka bisa sms, mms, dan minum es kalau haus.
Di mata Katya, Awan adalah sesosok lelaki dewasa yang bertanggung jawab. Usia mereka yang berbeda 7 tahun memang terkadang menjadi kendala. Dimana, Awan selalu berpikir lebih dewasa daripada Katya yang masih terbilang belum cukup gede (belum tua maksudnya).
Berkali-kali Awan mengumbar rayuan pulau kelapanya kepada Katya. Secara tidak langsung, Awan ingin melamar Katya di kemudian hari. Tapi, sampai kata-kata ajaib itu dikirimnya lewat short message atau sms, hubungan mereka masih belum jelas. Ckckckckckckckck….cape dech!!!!
Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan
Hingga mungkin ku tak sanggup lagi
Dan meninggalkan dirimu…
(Gantung by Melly Goeslow)
Teman-teman Katya mulai meragukan keseriusan Awan (emangnya Awan serius?!). Mereka pun bertanya secara langsung (kalo gak salah sich, cumin sms doank) kepada si Awan tanpa sepengetahuan Katya. Ketika ditanya apakah Awan serius mencintai Katya, awan pun menjawab bahwa dirinya hanya menganggap Katya sebagai ade.
Lelaki buaya darat
Busyet! Aku tertipu lagi
Mulutnya manis sekali
Tapi hati bagai serigala…
(Lelaki Buaya Darat by Ratu)
Bagai tersambar petir di musim kemarau, Katya sangat shock ketika mengetahui hal tsb. Padahal di sudah berharap lebih, akan tetapi…
Hilang semua janji
Semua mimpi-mimpi indah
Hancur hati ini melihat semua ini
Lenyap telah lenyap
Kebahagiaan di hati
(Hilang - OST. Cinderella)
Semuanya telah terjadi, Katya sempat merasakan masa-masa down. Tapi dia bangkit lagi. Dia mulai belajar dari pengalaman. Hubungan dengan Awan masih belum terputus, namun kini dia mulai belajar untuk tidak berharap lebih. Dijalaninya hubungan itu selayaknya kakak beradik yang saling menyayangi. Tapi, yang namanya cowok, ya tetep cowok, sekali gombal ya tetep gombal. Puih, cape dech! But, tenang aja, sekarang Katya gak gampang terpengaruh kok. Mungkin Katya punya prinsip gini, biarkan semunnya mengalir seperti air Semua keputusan berada di tangan Yang Kuasa. Jika dia memang jodohku maka tak ada jurang pemisah di antara kita.
****
Ceritanya belum selesai nie. Pada dasarnya, Awan itu orangnya baik, sholeh lagi. Mungkin itu yang membuat Katya jadi simpati sama dia. Mungkin Awan hanya menganggap Katya sebagai adik itu lebih dikarenakan dia tidak ingin mengganggu konsentrasi belajarnya Katya. Seperti yang tersebut di atas tadi, Awan memang lebih berpikiran dewasa. Lagi pula saat itu, Awan sedang mempersiapkan skrpsi terakhirnya. Sehingga bagi dia nggak ada waktu untuk menjalin suatu relationship, apalagi kalau mesti long distance.
Sekarang rasa yang dulu pernah hilang itu sepertinya kembali lagi. Diam-diam tanpa sepengetahuan teman-teman Katya, hubungan abstrak itu ternyata masih terjalin. Cinta abstrak yang mulai nampak, perlahan tapi pasti.
Rasa cinta yang dulu tlah hilang
Kini bersemi kembali
Tlah kau coba lupakan dirinya
Hapus cerita lalu
Dan lihatlah
dirimu bagai bunga dimusim semi
Yang tersenyum
Menatap indahnya dunia
Dan seiring menyambut
Jawaban sgala gundahku
(Masih by Adaband)
Kini Katya bisa tersenyum lagi. Walaupun cintanya masih abstrak (secara emang si Katya-nya yang gak mau pacaran) tapi dia tetap merasa senang. Setidaknya, dia tidak merasa sepi. Lagipula, kuliah Awan sudah selesai. Sekarang mereka sudah tinggal di kota yang sama so, gak ada jarak lagi dech. Awan juga udah punya pekerjaan tetap, dan Katya, beberapa bulan lagi, dia akan mengikuti ujian akhir nasional. Mungkin setelah lulus SMA, Awan langsung mengajukan lamaran. Hehehehehehe….ya, terserah merekalah. Mau langsung “ehm” boleh, enggak juga ga papa. Whateva’
Semoga cinta mereka yang bukan cinta biasa itu bisa berakhir dengan bahagia.
By. ND Chocote’z
Katya (nama samaran) berusia 17 dan masih berstatus sebagai pelajar disalah satu sekolah menengah atas negeri di kota tempat tinggalnya. Selayaknya seorang anak gadis yang telah memasuki usia remaja, Katya mulai merasakan sesuatu yang gimanaaaaa…….gitu. Diusianya yang masih belasan dulu (maksudnya di bawah 17 thn), Katya pernah mengalami beraneka ragam kisah cinta yang ujung-ujungnya terpaksa kandas di tengah jalan. Bahagia, riang, gembira, sepi, kecewa, dan kesedihan karena cinta, sudah dia pernah dia rasakan.
T’lah ku temui banyak cinta.
Dihati ini datang dan pergi.
Selimuti kisahku yang biru,
mendalam di hati……..
Karena cinta aku jadi sepi…
Karena cinta aku jadi riang…
Karena cinta aku jadi pilu…
Karena cinta kini sendiri…
Karena cinta pelangiku hilang…
Karena cinta matahari pergi…
Namun ku yakin dalam hatiku,
Cintaku tak boleh membunuhku.
(Karena Cinta by Laudya C. Bella)
Namun, perjalan cintanya yang sesungguhnya baru akan dimulai pada awal tahun 2007 ini.
Pada waktu itu, tepat tanggal 31 Desember 2006, Katya dan teman-temannya berencana untuk merayakan pergantian tahun bersama-sama.
Malamnya, mereka pergi keluar tanpa arah (maklumlah, anak muda, rencananya belum mateng), sebentar-sebentar kesini, sebentar-sebentar kesana. Sampai pada akhir, ketika waktu hampir menunjukkan pukul 00.00, hujan rintik gerimis turun membasahi belahan bumi tempat Katya dan teman-temannya berpijak. Terpaksa mereka berteduh di rumah salah satu teman Katya yang bernama Lizzy (panggilannya Liz! Ingat, just Liz! Jangan diucapkan 2 kali, soalnya ntar berubah menjadi Liliz). Kebetulan di rumah Lizzy juga sedang ada hajatan menyambut tahun baru. Beberapa keluarganya berkumpul di rumah Lizzy. Mulai dari kakek nenek om tante paman bibi keponakan sepupu cicit dan seterusnya (sebenarnya gak sebanyak itu, yah supaya kelihatan lebih berbobot aja gitu. Gpp kan sedikit dilebih-lebihkan).
Lumayan lama juga, Katya cs mengungsi di rumah Lizzy. Ketika itu mereka duduk di teras depan rumah sambil menikmati sate ayam. Abis makan mereka main gitar, nyanyi gak jelas gitu dech. Suddenly, atau tiba-tiba Katya menangkap sesosok makhluk ajaib. Kenapa dikatakan ajaib? Soalnya Katya nggak pernah nyangka bisa ketemu sama makhluk yang sebelumnya pernah dia lihat fotonya di handphonenya Lizzy. Sesosok makhluk berjenis kelamin jantan yang so cute banget di mata Katya. Namanya Awan, wajahnya cukup rupawan, senyumnya menawan, orangnya dermawan, dan kulitnya tak seputih awan.
Singkat kata, mereka kenalan dech. Katya malu-malu gitu (malu tapi mau banget!!!!). Pas jabatan tangan, kedua tangan mereka menyatu , dan mereka pun beradu pandang. Senyuman terpancar dari wajah keduanya. Sepertinya ada aliran listrik illegal yang sama-sama dirasakan keduanya pada saat itu.
Terpesona…ku pada pandangan pertama
Dan tak kuasa menahan rinduku
Senyumanmu slalu menghiasi mimpiku
Ingin ku peluk dan ku kecup keningmu….
(Terpesona by Audy ft. Glenn Freddly)
Sejak kejadian atau lebih tepatnya lagi sejak pertemuan di malam tahun baru itu, Katya dan Awan mulai dekat. Melalui Lizzy, Awan mulai bertanya tentang perihal Katya. Nampaknya, Awan juga merasakan apa yang dirakan Katya. Pertanyaannya, apakah yang dirasakan Katya itu? Apakah itu cinta? Atau hanya sebatas rasa kagum?
Ku akui tubuhku melunglai
Sempat ku memuji dalam hatiku
Jangan pikir aku kan mencinta
Ku hanya kagumi
Hanya memuji
(Hanya Memuji by Shanty ft. Marcel)
Awan yang pada saat itu masih berstatus mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi di luar kota, terpaksa meninggalkan kota tempat tinggalnya yang kebetulan kota tempat tinggalnya Katya juga. Semua itu dia lakukan supaya bisa cepat lulus dari perguruan tinggi, terus kerja, nach setelah itu, barulah menikah.
Jarak dan perbedaan waktu selama 1 jam tidak menjadi kendala bagi mereka untuk saling menjalin hubungan yang pada saat itu masih belum jelas. Untungnya dizaman sekarang ini sudah banyak telepon genggam atau handphone yang terbilang canggih sehingga mereka bisa sms, mms, dan minum es kalau haus.
Di mata Katya, Awan adalah sesosok lelaki dewasa yang bertanggung jawab. Usia mereka yang berbeda 7 tahun memang terkadang menjadi kendala. Dimana, Awan selalu berpikir lebih dewasa daripada Katya yang masih terbilang belum cukup gede (belum tua maksudnya).
Berkali-kali Awan mengumbar rayuan pulau kelapanya kepada Katya. Secara tidak langsung, Awan ingin melamar Katya di kemudian hari. Tapi, sampai kata-kata ajaib itu dikirimnya lewat short message atau sms, hubungan mereka masih belum jelas. Ckckckckckckckck….cape dech!!!!
Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan
Hingga mungkin ku tak sanggup lagi
Dan meninggalkan dirimu…
(Gantung by Melly Goeslow)
Teman-teman Katya mulai meragukan keseriusan Awan (emangnya Awan serius?!). Mereka pun bertanya secara langsung (kalo gak salah sich, cumin sms doank) kepada si Awan tanpa sepengetahuan Katya. Ketika ditanya apakah Awan serius mencintai Katya, awan pun menjawab bahwa dirinya hanya menganggap Katya sebagai ade.
Lelaki buaya darat
Busyet! Aku tertipu lagi
Mulutnya manis sekali
Tapi hati bagai serigala…
(Lelaki Buaya Darat by Ratu)
Bagai tersambar petir di musim kemarau, Katya sangat shock ketika mengetahui hal tsb. Padahal di sudah berharap lebih, akan tetapi…
Hilang semua janji
Semua mimpi-mimpi indah
Hancur hati ini melihat semua ini
Lenyap telah lenyap
Kebahagiaan di hati
(Hilang - OST. Cinderella)
Semuanya telah terjadi, Katya sempat merasakan masa-masa down. Tapi dia bangkit lagi. Dia mulai belajar dari pengalaman. Hubungan dengan Awan masih belum terputus, namun kini dia mulai belajar untuk tidak berharap lebih. Dijalaninya hubungan itu selayaknya kakak beradik yang saling menyayangi. Tapi, yang namanya cowok, ya tetep cowok, sekali gombal ya tetep gombal. Puih, cape dech! But, tenang aja, sekarang Katya gak gampang terpengaruh kok. Mungkin Katya punya prinsip gini, biarkan semunnya mengalir seperti air Semua keputusan berada di tangan Yang Kuasa. Jika dia memang jodohku maka tak ada jurang pemisah di antara kita.
****
Ceritanya belum selesai nie. Pada dasarnya, Awan itu orangnya baik, sholeh lagi. Mungkin itu yang membuat Katya jadi simpati sama dia. Mungkin Awan hanya menganggap Katya sebagai adik itu lebih dikarenakan dia tidak ingin mengganggu konsentrasi belajarnya Katya. Seperti yang tersebut di atas tadi, Awan memang lebih berpikiran dewasa. Lagi pula saat itu, Awan sedang mempersiapkan skrpsi terakhirnya. Sehingga bagi dia nggak ada waktu untuk menjalin suatu relationship, apalagi kalau mesti long distance.
Sekarang rasa yang dulu pernah hilang itu sepertinya kembali lagi. Diam-diam tanpa sepengetahuan teman-teman Katya, hubungan abstrak itu ternyata masih terjalin. Cinta abstrak yang mulai nampak, perlahan tapi pasti.
Rasa cinta yang dulu tlah hilang
Kini bersemi kembali
Tlah kau coba lupakan dirinya
Hapus cerita lalu
Dan lihatlah
dirimu bagai bunga dimusim semi
Yang tersenyum
Menatap indahnya dunia
Dan seiring menyambut
Jawaban sgala gundahku
(Masih by Adaband)
Kini Katya bisa tersenyum lagi. Walaupun cintanya masih abstrak (secara emang si Katya-nya yang gak mau pacaran) tapi dia tetap merasa senang. Setidaknya, dia tidak merasa sepi. Lagipula, kuliah Awan sudah selesai. Sekarang mereka sudah tinggal di kota yang sama so, gak ada jarak lagi dech. Awan juga udah punya pekerjaan tetap, dan Katya, beberapa bulan lagi, dia akan mengikuti ujian akhir nasional. Mungkin setelah lulus SMA, Awan langsung mengajukan lamaran. Hehehehehehe….ya, terserah merekalah. Mau langsung “ehm” boleh, enggak juga ga papa. Whateva’
Semoga cinta mereka yang bukan cinta biasa itu bisa berakhir dengan bahagia.
By. ND Chocote’z
ASEM MANISNYA CINTA PERTAMA
Kisah ini adalah kisah nyata yang bener-bener dialami oleh temen saya sendiri (temen dari kecil gitu dech!). Tapi mohon maaf, nama tokoh-tokohnya sedikit disamarkan (sedikit aja koq). Ini atas permintaan langsung dari orang yang terlibat dalam cerita ini.
Opi dan Aaron. Kedua nama ini tentunya sudah tidak asing lagi kita dengar di dunia blantika musik (Opi Andaresta dan Aaron Carter). Tapi ini bukan cerita tentang mereka lho! Yah, kebetulan aja namanya sama (gak apapa khan kalo namanya sedikit nyontek nama seleb?! Ya..biar kerenan dikit!). Ya udah dech, langsung ke ceritanya aja ya!
Temenku yang satu ini selalu bergaya seperti cowok padahal dia itu cewek tulen. Dari SD sampe SMP model rambutnya gak pernah berubah. Pendeeeek mulu (cape dech! gak ada trend rambut baru kali ya?!). Tapi sejak dia resmi jadi anak SMA, dia berubah! Dia mulai sadar atas kekeliruannya dimasa lalu. Dia berubah jadi cewek (secara dia emang cewek)! Dia mulai manjangin rambutnya (rambut di atas kepalanya ya!). Oiya ampe lupa, temen aku itu namanya Opi (nama samaran). Jadi, singkat cerita, si Opi telah berEvolusi menjadi seorang gadis manis dengan rambutnya yang sekarang sudah normal lagi. Opi pun siap untuk bertemu dengan pangeran kodoknya eh maksudnya pangeran impiannya.
Ternyata dugaan ku selama ini gak salah. Si Opi udah mulai ngerasain yang namanya Fallin’ in Love. Jadi gini ceritanya. Awal pertama kita jadi anak SMA, tentunya dan gak salah lagi dan tidak perlu diragukan lagi, kita pasti bakal ketemu temen baru dari berbagai penjuru di seluruh nusantara (gak segitunya sich, cuma ketemu sama anak-anak dari beberapa SMP di kota tempat tinggal kita). Nah, ada satu orang cowok yang sebelumnya udah aku ramalkan bakalan ditaksir sama Opi. Namanya Aaron (sekali lagi, itu hanya nama samaran! Inget ya, HANYA NAMA SAMARAN, karena gak mungkin namanya se-keren itu). Kenapa aku tahu Opi bakalan naksir Aaron…? Soalnya Aaron itu bener-bener tipe cowoknya Opi, kurus, tinggi, putih kulitnya, dan memiliki ketampanan yang lumayanlah gak ancur-ancur banget. Kalo diibaratkan dengan artis, kayak…..kayak sapa ya? Oiya, gak mirip artis manapun!
Awalnya Opi dan Aaron sering banget berantem (bukan berantem pukul-pukulan gitu). Mereka sering ngeledekin satu sama lain. Ya…ngeledekin kekurangan masing-masing (dalam kisah ini, tidak akan dibahas tentang kekurangan mereka, karena itu aib. Lagi pula, saya sendiri juga kurang tahu apa kekurangan mereka (tapi bo’ong). Biarlah itu menjadi rahasia mereka dan Tuhan tentunya). Mungkin karena setiap hari mereka bertemu dan saling berinteraksi dan juga sering berlempar-lemparan ejekan, maka tumbuhlah rasa cinta diantara mereka berdua (ooh…so sweet! manis banget!). Tapi keduanya masih gengsi-gengsian gitu buat menyataken (menyatakan) proklamasi eh maksudnya menyatakan perasaan mereka gitu.
Sebuah kejadian unik terjadi saat Opi berulang tahun yang ke-16. Aaron tiba-tiba ngasih Opi kado. Sebuah boneka beruang terbungkus dalam kertas kado yang kalo gak salah gambarnya bunga mawar gitu (kalo gak salah lho! Klo gak salah berarti bener dunk). Opi seneng banget. Dia langsung laporan ke semua orang (gak semua juga sich) termasuk sama akyu. Opi menceritakan kejadian itu dengan menggebu-gebu dan tersenyum malu juga terlihat bahagiaaaaa banget. Yup, sedikit lagi usaha peri cinta bakalan berhasil buat menyatukan mereka.
Kemudian, tepat pada tanggal 11 Mei 2006, terjadi peristiwa yang amat sangat bersejarah. Peristiwa apakah itu? Hayo, tebak! Apa coba? Kesebelasan bola di Indonesia berhasil menjadi salah satu peserta world cup (Amien, mudah-mudahan bisa kejadian kayak gitu ya!)? atau Indonesia jadi tuan rumah pertandingan balapan moto GP? (It’s impossible!) atau ada salju di dalam kulkas anda? Hahahahahahaha yang jelas bukan itu peristiwa sejarahnya. Jadi pada tanggal 11 Mei itu, Mas Aaron (Si Aaron itu Jawa tulen, makanya namanya “bule” banget) menyatakan cinta kepada Opi. Setting tempatnya di luar kelas yang pernah menduduki urutan ketiga dari belakang, kategori kelas bersih dari 13 kelas yang ada (dengan kata lain, kelas kita jadi juara 11 dalam ajang kebersihan kelas). Terus, penembakannya juga di akhiri dengan instrument musik dari Melly Goeslow dan Anto Hoed yang kompak ngebawain hits single terbaru mereka (saat itu) berjudul I’m Falling in Love (kejadian itu terjadi setelah mereka udah resmi jadi pasangan bahagia. Saat melangkah masuk ke kelas, mereka di sambut dengan lagu yang dibawakan oleh Melly dan suami). Sudah bisa diduga, saat itu Opi menjawab “Ya”. Peristiwa itu juga disaksikan oleh senior kita (kakak kelas kita) yang lagi duduk didepan kelasnya yang berada di bawah (kelas kita ada di atas, tepat berseberangan dengan kelas senior kita itu). Kebetulan senior kita yang katanya mirip Harry Potter (kacamatanya aja sich) itu, dulunya pernah diidolakan oleh Opi (itu idolanya sejak SMP lho). Tapi itu dulu, sekarang bagi Opi, hanya ada satu idolanya yaitu Mas Aaron.
Akhirnya mereka berdua pacaran. Misi peri cinta berhasil. Panah dari cupid ternyata tepat pada sasaran. Sayangnya waktu itu mereka tidak sempat berbagi kebahagiaan dengan yang lain (sebenernya bukan tidak sempat, tapi emang sengaja gak mau berbagi kebahagiaan dengan mentraktir temen-temen sekelas termasuk saya!). Yah mungkin itu jugalah salah satu faktor yang menyebabkan hubungan mereka berakhir di tengah gang (kalo di tengah jalan udah biasa khan). Mereka kurang mensyukuri nikmat Tuhan. Yah, ini bisa dijadikan pelajaran juga buat orang-orang yang baru jadian, supaya mau berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Salah satu caranya dengan ngajak temen-temen makan gratis (traktir temen gitu) atau bagi-bagi duit, atau bagi-bagi souvenir, atau beliin temen coklat, boneka, handphone, mobil rumah dan sebagainya (hahahahahahaha kalo gitu sich mending backstreet aja kali?!).
Setelah dua bulan dua minggu, jadi sekitar tanggal 28 Juli 2006, mereka bubaran. Menurut pengakuan Opi, Si Aaron itu kurang perhatian (jadi jablay dech si Opi). Ya sich, Aaron emang tipe cowok pemalu (lebih tepatnya gengsian dan jaim abis). Kata Opi, Aaron itu cuma berani mengumbar kata cinta lewat SMS. Sedangkan kalo di sekolah, perhatiannya ke Opi biasa-biasa aja, kayak nggak da hubungan apa-apa gitu. Cewek mana juga yang gak kesel diperlakukan seperti itu. Jelas aja Opi mulai bosan dan jenuh kayak lirik lagu yang satu ini nich.
Maaf ku jenuh padamu
Lama sudah ku pendam
Tertahan di bibir ku
Mau ku tak menyakiti
Meski begitu indah
Ku masih tetap saja
Jenuhhhhhhh……
Aaron begitu terpukul mendengar keputusan Opi (serasa disiksa sama senior di IPDN). Perasaan sedih, kesal, kecewa dan lain-lain, bercampur aduk seperti nasi uduk. Sebagai laki-laki, Aaron pun menerima keputusan Opi dengan tegar (kayak lagunya Rossa aja). Dia berusaha kuat menghadapi cobaan itu. Aaron berusaha mencoba untuk tidak menangis semalam seperti lagunya Audy, tapi ada sedikit bocoran nich. Menurut selentingan kabar, Si Aaron itu curhat ke temennya ampe nangis. Dia sedih diputusin sama Opi. Tapi itu cuma selentingan kabar, kebenarannya tidak perlu diragukan lagi, opss! maksudnya kebenarannya perlu diragukan. Sayang sekali ya, padahal sebelum putusan, mereka sempet duduk berdua di dalam bis (ironis banget ya?! Masa pacaran di dalam bis, kenapa gak di mikrolet aja. Eh tapi masih untung kali, dari pada di TPA-tempat pembuangan akhir). Waktu itu kita lagi liburan kenaikan kelas. Jadi kita semua ngadain wisata ke pantai gitu. Nah, Opi sama Aaron duduk berdua di bis, tahu dech apa yang mereka omongin saat itu?! Tapi kalo boleh nebak-nebak sich, mungkin saat itu mereka lagi ngomongin soal jumlah anak mereka nanti. Yah, kemungkinan mereka mau buat kesebelasan gitu. Hahahahahaha tapi itu hanya kemungkinan saja kok. Sayang sekali ya, Indonesia jadi gagal mendapatkan pemain-pemain bola terbaik dari Opi dan Aaron gara-gara hubungan mereka berakhir di bulan Juli.
Sejak putusan, mereka masih sering SMS-an. Yah, kadang-kadang pake kata-kata sayang gitu walaupun tanpa status pacaran. Mereka berdua udah saling mengakui kalo sebenernya mereka masih saling cinta, tapi kata Aaron, sekarang ini, dia lagi gak mau pacaran dulu. Katanya sich mau konsentrasi sama OSISnya dulu. Aaron pernah ngomong ke Opi, kalo dia mau pacaran lagi setelah duduk di kelas 3 SMA nanti. Tapi apakah Opi sanggup menunggu Aaron??? Sampai hatikah Aaron membiarkan opi menunggunya selama kurang lebih satu tahun??? Akankah mereka bersatu di kelas 3 nanti?? Biarlah waktu yang menjawabnya nanti.
Saat ku didekatmu terlintas tanya dalam anganku
Benarkah di benakmu hanyalah diriku yang bertahta
Akankah ini slamanya……
Saat jauh darimu bisik hati kecilku bertanya
Benarkah yang kau rasa hanyalah diriku yang kau puja
Akankah ini slamanya…ataukah hanya semata….
Dinnischya.
British Lova
This’s a true love story that ever occurred to my friend. But, penulis nggak bisa nyebutin namanya. It’s secret, you know! So, kita pake nama samaran aja. Kisahnya sendiri udah dimodifikasi, diramu, and diracik dengan sedemikian rupa sehingga menjadi lebih menarik and more dramatic than the real story but, tidak mengubah inti cerita sebenarnya. Setting ceritanya di Inggris, so, disarankan kepada para pembaca untuk membaca cerita ini dengan dialeg Inggris. Biar lebih berasa dan ada gregetnya gitu.
Widney Stiff adalah sulung dari dua bersaudara. Dia lahir pada tahun 1990 hari Rabu, di kota Sidney, Australia. Oleh sebab itu, kedua orang tuanya menamainya Widney, singkatan dari Wednesday, Sidney. Widney tumbuh menjadi gadis yang cantik dan periang. Dia punya banyak teman dan disukai setiap orang. Yah, perkenalan cukup sampai disini saja. Kita langsung ke inti dari ceritanya. Kisahnya dimulai ketika Widney berusia 16 tahun. Berikut kisah nyatanya.
Tahun 2006 silam keluarga Tn. Stiff baru saja menempati rumah baru mereka. Dapat dikatakan mereka baru saja pindah rumah. Mereka menempati sebuah rumah di kawasan perumahan di pinggiran kota Manchester, Inggris. Dari sinilah kisahnya dimulai.
Sebagai warga baru, tentu saja Widney masih belum tahu betul dengan tetangga-tetangga disekitarnya. But, walaupun masih banyak yang nggak dikenalnya, warga- warga disana menyambut dengan hangat kedatangan keluarga itu. Wait-wait, kayaknya nggak enak dech kalo pake kata “warga-warga”, gimana kalo kita pake kata “townspeople”, lebih british kan kedengarannya. Ok, lanjut. Semua townspeople disana ramah dan bersahabat.
Ditempat barunya itu, Widney dipanggil townspeople sekitar dengan sebutan ”Minoki”. Nama itu seperti nama gadis Jepang yang dulunya pernah tinggal di komplek perumahan itu, tapi sekarang udah pindah. Gaya rambut Widney yang J-style abis (Japanesse Style) membuat townspeople disana jadi teringat dengan Minoki. So, Widney pun dikenal dengan nama “Minoki”, walaupun sebenarnya dia nggak ada darah Jepang sama sekali. Widney sich nyantai aja dengan nama barunya itu.
One day, when she came home, she found something. Jadi, maksudnya, ketika Widney baru aja pulang sekolah dan ketika tiba di rumah, dia menemukan sesuatu (tepatnya di depan pintu rumahnya). Apakah itu…? Guess what! Itu adalah selembar kertas berwarna merah jambu dan bertuliskan serangkaian kata penuh makna. Tulisannya seperti ini.
Hi, I don’t know why people call you Minoki.
Whereas, you have a nice name, Widney.
May I call you, Widney?
I often see you, maybe some day we can meet and
Have lunch in café.
From ur secret admirer
B.J.
Wow, it’s fantastic. Baru aja pindah rumah, Widney alias Minoki udah dapat penggemar rahasia. Widney, senyum-senyum membaca tulisan yang menyebutkan kalo dia mempunyai nama yang indah. Udah gitu si penulis surat ternyata diam-diam sering lihat-lihat atau lebih tepatnya lagi, curi-curi pandang sama Widney. Belum lagi tawaran untuk ketemu dan makan siang di kafe, pokoknya semua itu bikin hati Widney jadi berdetak lebih kuencang seperti genderang mau perang.
Widney jadi penasaran sama si B.J. Dia pun mulai mengorek informasi tentang sosok misterius yang diam-diam mengaguminya. Pencarian informasi dimulai dari membaca buku telpon. Disana ada banyak orang yang mempunyai nama dengan inisial B.J. Rasa penasaran yang teramat sangat membuat Widney mengambil tindakan nekat. Dia menelpon satu-persatu orang yang inisial namanya B.J. Sungguh melelahkan memang, tapi dia melakukannya dengan sepenuh hati. Malangnya lagi, dari sekian banyak nomor telpon yang ditelponnya itu, tak ada satu pun yang mengaku pernah mengiriminya surat. Semua yang dilakukan Widney hanya sia-sia, waktunya terbuang dan tagihan telpon juga ikut membengkak.
Widney mulai putus asa. Dia memilih untuk bersabar dan menunggu si B.J. sendiri yang menemuinya. But, ditengah keputusasaannya itu, suddenly dia menemui suatu titik terang. Dia bertemu dengan seorang gadis seumurannya yang kebetulan tetangga Widney juga. Gadis itu menyapa Widney dengan ramah, “Hi, I’m Christy. You are…Widney, right?”
“Yes, I am.” jawab Widney.
“Nice to meet you, Witney.” kata Christy sambil menjabat tangan Widney.
“Nice to meet you too.” sahut Widney.
Mereka berdua berbincang-bincang sejenak. Keduanya cepat sekali akrab. Christy sangat senang karena sekarang di komplek perumahannya ada anak yang juga seumuran dengannya. Tentunya temannya bisa bertambah. Ketika berbincang dengan Christy, Widney sedikit menyerempet ke masalah surat tadi. Dia mulai mengorek informasi tentang Mr. Rius, the B of the J alias B.J.
“Hmmm…..siapa ya?” Christy mulai berpikir. Dia mulai mengingat-ngingat nama-nama tetangganya. Sementara Widney, wajahnya penuh harap. Dia berdoa semoga Christy bisa membantunya.
“Oiya, aku ingat! B.J. itu pasti singkatan dari Brandon James. Dia emang anak sini. Biasanya dia suka ngumpul sama temen-temennya di ujung jalan sana.” akhirnya Christy ingat juga.
“Terus-terus, orangnya gimana?” Widney jadi semangat.
“Dia itu blasteran negro-amerika. Dia sama temen-temennya suka dandan ala rapper gitu dech. Hmm….apa lagi ya? Oiya, kayaknya itu aja dech.” kata Christy.
“Handsome?” Widney sedikit berbisik.
Christy tersenyum mendengar pertanyaan dari Widney.
****
Pulang sekolah Widney melewati jalan yang menurut kata Christy, disitu adalah tempat biasanya Mr. B.J. ngumpul with his friends. Ternyata memang benar disana ada banyak anak cowok dan semuanya pada dandan ala rapper. Walau agak sedikit gugup, tapi Widney berusaha untuk menemukan sosok B.J. Dia sedikit mencuri pandang, tapi ketika ada salah satu cowok yang melihatnya, dia langsung menundukkan pandangannya.
Disana ada banyak kumpulan cowok negro berkulit hitam (nggak item-item banget sich, coklat tua gitu dech). Widney jadi bingung, sampai akhirnya dia melewati kumpulan cowok-cowok rapper tadi. Widney sempat kesal, tapi tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya.
“Widney.”
Ketika Widney berbalik ke belakang, dia melihat sesosok pria di hadapannya. Widney terpukau.
Akhirnya B.J. muncul juga di hadapannya.
“Hi, I’m Brandon James.” said him.
“Are you B.J.?” ask Widney.
“Yeah, it’s me.”
So, bisa ditebak sendiri kan, gimana kelanjutannya.
Setelah perkenalan itu, akhirnya tepat pada tanggal 19 April 2006 terjadilan peristiwa bersejarah itu. B.J. alias Brandon, menyatakan perasaan cintanya kepada Widney. Dan pada tanggal 22 April, Widney menjawab pertanyaan Brandon dengan jawaban ya.
Widney dan Brandon pacaran sembunyi-sembunyi alias backstreet, soalnya orang tua Widney kurang setuju kalau anak gadis mereka pacaran dengan anak satu komplek.
Widney sangat menyayangi Brandon begitu juga sebaliknya. Tapi itu nggak lama. Brandon ternyata selingkuh dengan cewek lain. Ironisnya lagi, Brandon nggak mau minta maaf, karena dia merasa nggak salah. Dia bilang itu nggak benar. Sampai pada akhirnya, demi mempertahankan hubungan itu, Widney mengalah dan dia pun minta maaf atas kesalahan yang tak pernah diperbuatnya.
Dua tahun telah berlalu. Selama itu mereka masih menyembunyikan hubungan cintanya. Sebenarnya ibu Widney tahu tentang hubungan illegal itu tapi beliau diam saja. Terkadang Mrs. Stiff sedikit menyinggung hubungan keduanya. Kalau sudah begitu, Widney cuma bisa diam saja, atau dia bisa langsung pergi ke kamarnya.
Hubungan tanpa restu orang tua itu memang kurang baik dan mungkin bisa dikatakan kurang berkah. Belakangan Widney mendengar kabar kalau Brandon ternyata sedang dekat sama cewek lain, tepatnya tanggal 8 April 2008. Kejadian masa lalu sepertinya akan terulang lagi.
Buat Widney, tak ada gunanya lagi dia meminta penjelasan Brandon. Karena sudah pasti Brandon akan menyangkal semuanya. Widney pun akhirnya memutuskan untuk menemui gadis yang dikabarkan sedang dekat dengan Brandon. Tentunya tanpa sepengetahuan Brandon.
“Jadi gimana? Kamu setuju kan buat ngerjain Brandon. Kamu harus bikin dia patah hati.” Widney meminta gadis itu mengikuti rencananya untuk memberi pelajaran kepada Brandon. Awalnya gadis itu enggan, but finally dia setuju juga.
Rencana besar yang dibuat Widney itu terinspirasi dari acara-acara di televisi dan biasanya pada ending cerita, rencana ngerjain playboy seperti itu pasti berhasil. Tapi tidak begitu dengan rencana Widney.
Semuanya gagal. Gadis itu mengkhianati kepercayaan Widney. Tanggal 10 April, gadis itu menerima cinta Brandon dan ternyata gadis itu juga menyukai Brandon yang pesonanya mungkin teramat sangat.
Widney nggak tahu mesti ngapain lagi. Dia sedih banget, dia juga menyesali semuanya. Namun, disaat yang bersamaan, ketika itu Widney juga sedang dekat dengan seorang cowok, namanya Carrick. Kayak nama belakangnya pemain bola dari klub Inggris, Manchester United, yang baru aja menang Liga Inggris 2008. Cowok itu adalah temannya, pacarnya, temannya Widney (Bisa dimengerti nggak? Pasti bisa dech).
Diam-diam ternyata Carrick juga suka sama Widney. Cowok itu memang lebih baik daripada si rapper itu. 14 April 2008 menjadi hari bersejarah kedua buat Widney. Carrick bilang, kalau dia suka dan sayaaaaaaaang banget sama Widney.
Widney nggak langsung jawab. Dia masih banyak pikiran.
Keesokan harinya adalah puncak dari segala masalah yang dihadapinya. 15 April, Widney mengajak Brandon dan cewek barunya itu untuk bertemu. Widney ingin mendapatkan penjelasan dari Brandon.
Bisa dibayangkan apa yang terjadi ketika itu. Widney dan Brandon perang mulut. Keduanya sama-sama emosi. Sampai akhirnya dia (Brandon) berkata seperti ini, “Ya udah kalau gitu kita putus aja!”
Bagaikan disambar geledek disiang bolong. Widney tak sanggup berkata-kata lagi. Dia pun pulang dengan perasaan kecewa.
Widney mengurung diri di kamar. Dia menangis terisak-isak. Tapi kemudian dia berpikir, untuk apa dia menangisi cowok seperti Brandon. Dia pun teringat dengan Carrick. Dan malam itu juga, Widney menerima Carrick sebagai pacar barunya.
Awalnya Carrick memang cuma dijadikan Widney sebagai pelarian saja. Tapi akhirnya, Widney sadar kalau ternyata dia juga sayang sama Carrick. Cowok itu baik banget dan sangat pengertian, mungkin karena dia lebih dewasa daripada si rapper gadungan, Brandon.
****
Baru seminggu Widney pacaran sama Carrick, tiba-tiba Brandon menelpon Widney lagi. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah pengen minta balikan. (Nah, Lho?!)
Tapi Widney jujur kalau dia udah punya cowok baru. Brandon pun meminta Widney untuk memperkenalkannya dengan Carrick. Widney langsung saja menyetujui permintaan Brandon. Tapi ketika hari pertemuan, Carrick sedang berhalangan hadir dan akhirnya Widney meminta temannya untuk menggantikan Carrick. Tentu saja Brandon tidak tahu kalau sebenarnya orang yang diperkenalkan Widney itu bukan Carrick.
Wajah Brandon terlihat sangat kesal. Dia sangat cemburu alias jealous. Dia juga marah karena dia tidak menyangka kalau Widney bisa melupakannya secepat itu. Padahal dia juga begitu, bahkan lebih dari itu. Lebih. Lebih banget.
Sejak saat itu, Brandon jadi lebih sering menghubungi Widney. Dia mulai cari perhatian lagi. Malam hari ketika Widney lagi asik mendengarkan radio, suddenly ada penelpon di radio yang me-request¬ sebuah lagu. Suara penelpon itu terdengar tidak asing buat Widney. Dia pun mendengarkan dengan seksama.
“Hallo, I’m B.J.” kata si penelpon.
“Ya, B.J. mau minta lagu apa ni?” tanya penyiar radio.
“Minta lagu lamanya N’Sync yang judulnya This I Promise You. Spesial buat cewek yang paling istimewa di hati aku. Widney. Aku janji nggak akan nyakitin kamu lagi. I promise.”
“Ok B.J. semoga Widney denger ya.”
Widney kaget banget namanya disebutin. Dan lagu yang diminta Brandon pun diputarkan.
When the visions around you,
Bring tears to your eyes
And all that surround you,
Are secrets and lies
I'll be your strength,
I'll give you hope,
Keeping your faith when it's gone
The one you should call,
Was standing here all along..
And I will take
You in my arms
And hold you right where you belong
Till the day my life is through
This I promise you
This I promise you
I've loved you forever,
In lifetimes before
And I promise you never...
Will you hurt anymore
I give you my word
I give you my heart (give you my heart)
This is a battle we've won
And with this vow,
Forever has now begun...
Just close your eyes (close your eyes)
Each loving day (each loving day)
I know this feeling
won't go away (no..)
Till the day my life is through
This I promise you..
This I promise you..
. . . . . .
Widney tak sanggup mendengarkan lagu itu sampai habis. Dia pun mengganti salauran radionya. Tapi, lagi-lagi dia mendengar lagu yang sama. Widney jadi tambah kesal dan digantinya lagi saluran radio. Kali ini memang tidak ada lagu itu, tapi ada suara Brandon yang menelpon di radio dan meminta lagu yang sama diputarkan.
Widney jadi tambah kesal. Terus dimatiin dech tu radio. Dia jadi teringat dengan sebuah lagu yang mewakili perasaannya saat itu. Kemudian bernyanyilah dia, (sebenarnya Widney nggak nyanyi, dia cuma lip-sync)
I gotta change that station that I have
cuz all I hear is you it just keeps reminding me
of all the things we used to do
And I know that I should turn off the radio
But its the only place I hear your voice anymore
(it's ridiculous)
Its been months since I spoken to you
(you aint keep in touch)
Dont know why it came to this(noooo)
(but enough is enough)
No more walking wit my head down
I dont wanna be a fool
Cryin over you
If ur so sick of love songs so tired of tears
You say you love me why aint you here
I’m so sick of your love songs so sad n slow
But I just cant turn off the radio
. . . . . .
(So Sick Female by Lil’ Bit)
Brandon masih belum menyerah juga. Gagal dengan trik minta maaf lewat lagu di radio, sekarang dia mencoba cara baru, yakni dengan puisi. Yah, cewek pasti suka banget kalo dibuatin puisi, begitu pikirnya. Dengan penuh rasa percaya diri, Brandon menekan nomor handphone Widney dari ponselnya.
“Hallo, Widney aku…” belum selesai Brandon ngomong, Widney langsung nyamber aja.
“Mau apa lagi sich kamu? Kan aku udah bilang kalo aku udah punya cowok?!”
“Iya tahu. Dengerin dulu, aku buatin puisi buat kamu. Please…listen me!” suara Brandon sedikit memelas. Widney pun tak tega dan memberinya kesempatan untuk membacakan puisi untuknya. Begini kiranya bunyi puisi tersebut.
Widney, I always needed time on my own
I never thought I'd need you there when I cry
And the days feel like years when I'm alone
“Stop-stop, kayaknya aku pernah dengar kata-kata kayak begitu dech?!”
“Masa sich?! Oh, mungkin sebelumnya kamu udah mimpiin kejadian ini.”
“Nggak mungkin, tahu!” Widney jadi kesal.
“Ok, aku lanjutin ya!”
When you walk away
I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now?
When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
…..
“STOOOOOOOOOOOOPP….Itu kan lagunya Avril Lavigne?! Puisi apaan coba?! Emangnya aku stupid girl? Kamu lupa ya, kalo aku ngefans sama Avril?!” kata Widney.
“What? Jadi Avril Lavigne udah pake puisi aku buat lirik lagunya? Oh my God?! Unbelieveable! Aku harus minta royalty donk.” udah ketahuan ngarang, Brandon masih aja ngebohong.
“Are you crazy? Yang ada juga kamu yang nyontek liriknya Avril.”
“Oke, iya aku emang ngambil puisi ini dari lirik lagu, tapi aku nggak tahu kalo ini lagunya Avril. Aku nggak tahu harus gimana lagi, I’m so confuse. Aku cuma pengen kita balikan lagi. Aku janji nggak akan nyakitin kamu lagi. I promise.” kata Brandon sambil menitikkan crocodile tears.
“……..”
“Widney, I never felt true love until I was with u and I never felt true sadness until u left me.”
“Bullshit!”
Tut tut tut tut….
Widney langsung mematikan ponselnya.
Widney cerita tentang semua kejadian yang dialaminya dengan Carrick. Dia bisa melihat raut wajah Carrick sedikit cemburu mendengar cerita Widney yang mengatakan bahwa belakangan ini Brandon lagi berusaha mendekati Widney lagi.
“Yah, terserah kamu aja. Segala keputusan ada di tangan kamu.” Kata Carrick pasrah.
Tapi Widney nggak mau lagi masuk ke lubang yang sama. Dia nggak mau masuk ke jurang yang sama, ke sumur yang sama, dan ke kolam yang sama (penulis kehabisan kata-kata alias speechless).
Pada akhirnya Widney pun lebih memilih Carrick. Kini, hidup Widney jadi lebih bahagia. Carrick sangat mengerti Widney dan dia tidak pernah menyakiti Widney. Widney sangat bersyukur karena akhirnya dia telah menemukan sosok seseorang yang selama ini sudah lama dicarinya.
****
Malam itu seperti yang sudah direncanakan, Widney diajak Carrick makan malam pake lilin alias candle light dinner. Suasananya romantis banget, ada iring-iringan musik klasik dari gesekan biola dan petikkan harpa. Ckckckckckck….pokoknya so sweet banget-banget dah. Dan pada malam itu, Carrick menanyakan hal yang sama sekali tak terduga oleh Widney. Dia berkata,…
“Widney, will u marry me?”
THE END
Widney Stiff adalah sulung dari dua bersaudara. Dia lahir pada tahun 1990 hari Rabu, di kota Sidney, Australia. Oleh sebab itu, kedua orang tuanya menamainya Widney, singkatan dari Wednesday, Sidney. Widney tumbuh menjadi gadis yang cantik dan periang. Dia punya banyak teman dan disukai setiap orang. Yah, perkenalan cukup sampai disini saja. Kita langsung ke inti dari ceritanya. Kisahnya dimulai ketika Widney berusia 16 tahun. Berikut kisah nyatanya.
Tahun 2006 silam keluarga Tn. Stiff baru saja menempati rumah baru mereka. Dapat dikatakan mereka baru saja pindah rumah. Mereka menempati sebuah rumah di kawasan perumahan di pinggiran kota Manchester, Inggris. Dari sinilah kisahnya dimulai.
Sebagai warga baru, tentu saja Widney masih belum tahu betul dengan tetangga-tetangga disekitarnya. But, walaupun masih banyak yang nggak dikenalnya, warga- warga disana menyambut dengan hangat kedatangan keluarga itu. Wait-wait, kayaknya nggak enak dech kalo pake kata “warga-warga”, gimana kalo kita pake kata “townspeople”, lebih british kan kedengarannya. Ok, lanjut. Semua townspeople disana ramah dan bersahabat.
Ditempat barunya itu, Widney dipanggil townspeople sekitar dengan sebutan ”Minoki”. Nama itu seperti nama gadis Jepang yang dulunya pernah tinggal di komplek perumahan itu, tapi sekarang udah pindah. Gaya rambut Widney yang J-style abis (Japanesse Style) membuat townspeople disana jadi teringat dengan Minoki. So, Widney pun dikenal dengan nama “Minoki”, walaupun sebenarnya dia nggak ada darah Jepang sama sekali. Widney sich nyantai aja dengan nama barunya itu.
One day, when she came home, she found something. Jadi, maksudnya, ketika Widney baru aja pulang sekolah dan ketika tiba di rumah, dia menemukan sesuatu (tepatnya di depan pintu rumahnya). Apakah itu…? Guess what! Itu adalah selembar kertas berwarna merah jambu dan bertuliskan serangkaian kata penuh makna. Tulisannya seperti ini.
Hi, I don’t know why people call you Minoki.
Whereas, you have a nice name, Widney.
May I call you, Widney?
I often see you, maybe some day we can meet and
Have lunch in café.
From ur secret admirer
B.J.
Wow, it’s fantastic. Baru aja pindah rumah, Widney alias Minoki udah dapat penggemar rahasia. Widney, senyum-senyum membaca tulisan yang menyebutkan kalo dia mempunyai nama yang indah. Udah gitu si penulis surat ternyata diam-diam sering lihat-lihat atau lebih tepatnya lagi, curi-curi pandang sama Widney. Belum lagi tawaran untuk ketemu dan makan siang di kafe, pokoknya semua itu bikin hati Widney jadi berdetak lebih kuencang seperti genderang mau perang.
Widney jadi penasaran sama si B.J. Dia pun mulai mengorek informasi tentang sosok misterius yang diam-diam mengaguminya. Pencarian informasi dimulai dari membaca buku telpon. Disana ada banyak orang yang mempunyai nama dengan inisial B.J. Rasa penasaran yang teramat sangat membuat Widney mengambil tindakan nekat. Dia menelpon satu-persatu orang yang inisial namanya B.J. Sungguh melelahkan memang, tapi dia melakukannya dengan sepenuh hati. Malangnya lagi, dari sekian banyak nomor telpon yang ditelponnya itu, tak ada satu pun yang mengaku pernah mengiriminya surat. Semua yang dilakukan Widney hanya sia-sia, waktunya terbuang dan tagihan telpon juga ikut membengkak.
Widney mulai putus asa. Dia memilih untuk bersabar dan menunggu si B.J. sendiri yang menemuinya. But, ditengah keputusasaannya itu, suddenly dia menemui suatu titik terang. Dia bertemu dengan seorang gadis seumurannya yang kebetulan tetangga Widney juga. Gadis itu menyapa Widney dengan ramah, “Hi, I’m Christy. You are…Widney, right?”
“Yes, I am.” jawab Widney.
“Nice to meet you, Witney.” kata Christy sambil menjabat tangan Widney.
“Nice to meet you too.” sahut Widney.
Mereka berdua berbincang-bincang sejenak. Keduanya cepat sekali akrab. Christy sangat senang karena sekarang di komplek perumahannya ada anak yang juga seumuran dengannya. Tentunya temannya bisa bertambah. Ketika berbincang dengan Christy, Widney sedikit menyerempet ke masalah surat tadi. Dia mulai mengorek informasi tentang Mr. Rius, the B of the J alias B.J.
“Hmmm…..siapa ya?” Christy mulai berpikir. Dia mulai mengingat-ngingat nama-nama tetangganya. Sementara Widney, wajahnya penuh harap. Dia berdoa semoga Christy bisa membantunya.
“Oiya, aku ingat! B.J. itu pasti singkatan dari Brandon James. Dia emang anak sini. Biasanya dia suka ngumpul sama temen-temennya di ujung jalan sana.” akhirnya Christy ingat juga.
“Terus-terus, orangnya gimana?” Widney jadi semangat.
“Dia itu blasteran negro-amerika. Dia sama temen-temennya suka dandan ala rapper gitu dech. Hmm….apa lagi ya? Oiya, kayaknya itu aja dech.” kata Christy.
“Handsome?” Widney sedikit berbisik.
Christy tersenyum mendengar pertanyaan dari Widney.
****
Pulang sekolah Widney melewati jalan yang menurut kata Christy, disitu adalah tempat biasanya Mr. B.J. ngumpul with his friends. Ternyata memang benar disana ada banyak anak cowok dan semuanya pada dandan ala rapper. Walau agak sedikit gugup, tapi Widney berusaha untuk menemukan sosok B.J. Dia sedikit mencuri pandang, tapi ketika ada salah satu cowok yang melihatnya, dia langsung menundukkan pandangannya.
Disana ada banyak kumpulan cowok negro berkulit hitam (nggak item-item banget sich, coklat tua gitu dech). Widney jadi bingung, sampai akhirnya dia melewati kumpulan cowok-cowok rapper tadi. Widney sempat kesal, tapi tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya.
“Widney.”
Ketika Widney berbalik ke belakang, dia melihat sesosok pria di hadapannya. Widney terpukau.
Akhirnya B.J. muncul juga di hadapannya.
“Hi, I’m Brandon James.” said him.
“Are you B.J.?” ask Widney.
“Yeah, it’s me.”
So, bisa ditebak sendiri kan, gimana kelanjutannya.
Setelah perkenalan itu, akhirnya tepat pada tanggal 19 April 2006 terjadilan peristiwa bersejarah itu. B.J. alias Brandon, menyatakan perasaan cintanya kepada Widney. Dan pada tanggal 22 April, Widney menjawab pertanyaan Brandon dengan jawaban ya.
Widney dan Brandon pacaran sembunyi-sembunyi alias backstreet, soalnya orang tua Widney kurang setuju kalau anak gadis mereka pacaran dengan anak satu komplek.
Widney sangat menyayangi Brandon begitu juga sebaliknya. Tapi itu nggak lama. Brandon ternyata selingkuh dengan cewek lain. Ironisnya lagi, Brandon nggak mau minta maaf, karena dia merasa nggak salah. Dia bilang itu nggak benar. Sampai pada akhirnya, demi mempertahankan hubungan itu, Widney mengalah dan dia pun minta maaf atas kesalahan yang tak pernah diperbuatnya.
Dua tahun telah berlalu. Selama itu mereka masih menyembunyikan hubungan cintanya. Sebenarnya ibu Widney tahu tentang hubungan illegal itu tapi beliau diam saja. Terkadang Mrs. Stiff sedikit menyinggung hubungan keduanya. Kalau sudah begitu, Widney cuma bisa diam saja, atau dia bisa langsung pergi ke kamarnya.
Hubungan tanpa restu orang tua itu memang kurang baik dan mungkin bisa dikatakan kurang berkah. Belakangan Widney mendengar kabar kalau Brandon ternyata sedang dekat sama cewek lain, tepatnya tanggal 8 April 2008. Kejadian masa lalu sepertinya akan terulang lagi.
Buat Widney, tak ada gunanya lagi dia meminta penjelasan Brandon. Karena sudah pasti Brandon akan menyangkal semuanya. Widney pun akhirnya memutuskan untuk menemui gadis yang dikabarkan sedang dekat dengan Brandon. Tentunya tanpa sepengetahuan Brandon.
“Jadi gimana? Kamu setuju kan buat ngerjain Brandon. Kamu harus bikin dia patah hati.” Widney meminta gadis itu mengikuti rencananya untuk memberi pelajaran kepada Brandon. Awalnya gadis itu enggan, but finally dia setuju juga.
Rencana besar yang dibuat Widney itu terinspirasi dari acara-acara di televisi dan biasanya pada ending cerita, rencana ngerjain playboy seperti itu pasti berhasil. Tapi tidak begitu dengan rencana Widney.
Semuanya gagal. Gadis itu mengkhianati kepercayaan Widney. Tanggal 10 April, gadis itu menerima cinta Brandon dan ternyata gadis itu juga menyukai Brandon yang pesonanya mungkin teramat sangat.
Widney nggak tahu mesti ngapain lagi. Dia sedih banget, dia juga menyesali semuanya. Namun, disaat yang bersamaan, ketika itu Widney juga sedang dekat dengan seorang cowok, namanya Carrick. Kayak nama belakangnya pemain bola dari klub Inggris, Manchester United, yang baru aja menang Liga Inggris 2008. Cowok itu adalah temannya, pacarnya, temannya Widney (Bisa dimengerti nggak? Pasti bisa dech).
Diam-diam ternyata Carrick juga suka sama Widney. Cowok itu memang lebih baik daripada si rapper itu. 14 April 2008 menjadi hari bersejarah kedua buat Widney. Carrick bilang, kalau dia suka dan sayaaaaaaaang banget sama Widney.
Widney nggak langsung jawab. Dia masih banyak pikiran.
Keesokan harinya adalah puncak dari segala masalah yang dihadapinya. 15 April, Widney mengajak Brandon dan cewek barunya itu untuk bertemu. Widney ingin mendapatkan penjelasan dari Brandon.
Bisa dibayangkan apa yang terjadi ketika itu. Widney dan Brandon perang mulut. Keduanya sama-sama emosi. Sampai akhirnya dia (Brandon) berkata seperti ini, “Ya udah kalau gitu kita putus aja!”
Bagaikan disambar geledek disiang bolong. Widney tak sanggup berkata-kata lagi. Dia pun pulang dengan perasaan kecewa.
Widney mengurung diri di kamar. Dia menangis terisak-isak. Tapi kemudian dia berpikir, untuk apa dia menangisi cowok seperti Brandon. Dia pun teringat dengan Carrick. Dan malam itu juga, Widney menerima Carrick sebagai pacar barunya.
Awalnya Carrick memang cuma dijadikan Widney sebagai pelarian saja. Tapi akhirnya, Widney sadar kalau ternyata dia juga sayang sama Carrick. Cowok itu baik banget dan sangat pengertian, mungkin karena dia lebih dewasa daripada si rapper gadungan, Brandon.
****
Baru seminggu Widney pacaran sama Carrick, tiba-tiba Brandon menelpon Widney lagi. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah pengen minta balikan. (Nah, Lho?!)
Tapi Widney jujur kalau dia udah punya cowok baru. Brandon pun meminta Widney untuk memperkenalkannya dengan Carrick. Widney langsung saja menyetujui permintaan Brandon. Tapi ketika hari pertemuan, Carrick sedang berhalangan hadir dan akhirnya Widney meminta temannya untuk menggantikan Carrick. Tentu saja Brandon tidak tahu kalau sebenarnya orang yang diperkenalkan Widney itu bukan Carrick.
Wajah Brandon terlihat sangat kesal. Dia sangat cemburu alias jealous. Dia juga marah karena dia tidak menyangka kalau Widney bisa melupakannya secepat itu. Padahal dia juga begitu, bahkan lebih dari itu. Lebih. Lebih banget.
Sejak saat itu, Brandon jadi lebih sering menghubungi Widney. Dia mulai cari perhatian lagi. Malam hari ketika Widney lagi asik mendengarkan radio, suddenly ada penelpon di radio yang me-request¬ sebuah lagu. Suara penelpon itu terdengar tidak asing buat Widney. Dia pun mendengarkan dengan seksama.
“Hallo, I’m B.J.” kata si penelpon.
“Ya, B.J. mau minta lagu apa ni?” tanya penyiar radio.
“Minta lagu lamanya N’Sync yang judulnya This I Promise You. Spesial buat cewek yang paling istimewa di hati aku. Widney. Aku janji nggak akan nyakitin kamu lagi. I promise.”
“Ok B.J. semoga Widney denger ya.”
Widney kaget banget namanya disebutin. Dan lagu yang diminta Brandon pun diputarkan.
When the visions around you,
Bring tears to your eyes
And all that surround you,
Are secrets and lies
I'll be your strength,
I'll give you hope,
Keeping your faith when it's gone
The one you should call,
Was standing here all along..
And I will take
You in my arms
And hold you right where you belong
Till the day my life is through
This I promise you
This I promise you
I've loved you forever,
In lifetimes before
And I promise you never...
Will you hurt anymore
I give you my word
I give you my heart (give you my heart)
This is a battle we've won
And with this vow,
Forever has now begun...
Just close your eyes (close your eyes)
Each loving day (each loving day)
I know this feeling
won't go away (no..)
Till the day my life is through
This I promise you..
This I promise you..
. . . . . .
Widney tak sanggup mendengarkan lagu itu sampai habis. Dia pun mengganti salauran radionya. Tapi, lagi-lagi dia mendengar lagu yang sama. Widney jadi tambah kesal dan digantinya lagi saluran radio. Kali ini memang tidak ada lagu itu, tapi ada suara Brandon yang menelpon di radio dan meminta lagu yang sama diputarkan.
Widney jadi tambah kesal. Terus dimatiin dech tu radio. Dia jadi teringat dengan sebuah lagu yang mewakili perasaannya saat itu. Kemudian bernyanyilah dia, (sebenarnya Widney nggak nyanyi, dia cuma lip-sync)
I gotta change that station that I have
cuz all I hear is you it just keeps reminding me
of all the things we used to do
And I know that I should turn off the radio
But its the only place I hear your voice anymore
(it's ridiculous)
Its been months since I spoken to you
(you aint keep in touch)
Dont know why it came to this(noooo)
(but enough is enough)
No more walking wit my head down
I dont wanna be a fool
Cryin over you
If ur so sick of love songs so tired of tears
You say you love me why aint you here
I’m so sick of your love songs so sad n slow
But I just cant turn off the radio
. . . . . .
(So Sick Female by Lil’ Bit)
Brandon masih belum menyerah juga. Gagal dengan trik minta maaf lewat lagu di radio, sekarang dia mencoba cara baru, yakni dengan puisi. Yah, cewek pasti suka banget kalo dibuatin puisi, begitu pikirnya. Dengan penuh rasa percaya diri, Brandon menekan nomor handphone Widney dari ponselnya.
“Hallo, Widney aku…” belum selesai Brandon ngomong, Widney langsung nyamber aja.
“Mau apa lagi sich kamu? Kan aku udah bilang kalo aku udah punya cowok?!”
“Iya tahu. Dengerin dulu, aku buatin puisi buat kamu. Please…listen me!” suara Brandon sedikit memelas. Widney pun tak tega dan memberinya kesempatan untuk membacakan puisi untuknya. Begini kiranya bunyi puisi tersebut.
Widney, I always needed time on my own
I never thought I'd need you there when I cry
And the days feel like years when I'm alone
“Stop-stop, kayaknya aku pernah dengar kata-kata kayak begitu dech?!”
“Masa sich?! Oh, mungkin sebelumnya kamu udah mimpiin kejadian ini.”
“Nggak mungkin, tahu!” Widney jadi kesal.
“Ok, aku lanjutin ya!”
When you walk away
I count the steps that you take
Do you see how much I need you right now?
When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
…..
“STOOOOOOOOOOOOPP….Itu kan lagunya Avril Lavigne?! Puisi apaan coba?! Emangnya aku stupid girl? Kamu lupa ya, kalo aku ngefans sama Avril?!” kata Widney.
“What? Jadi Avril Lavigne udah pake puisi aku buat lirik lagunya? Oh my God?! Unbelieveable! Aku harus minta royalty donk.” udah ketahuan ngarang, Brandon masih aja ngebohong.
“Are you crazy? Yang ada juga kamu yang nyontek liriknya Avril.”
“Oke, iya aku emang ngambil puisi ini dari lirik lagu, tapi aku nggak tahu kalo ini lagunya Avril. Aku nggak tahu harus gimana lagi, I’m so confuse. Aku cuma pengen kita balikan lagi. Aku janji nggak akan nyakitin kamu lagi. I promise.” kata Brandon sambil menitikkan crocodile tears.
“……..”
“Widney, I never felt true love until I was with u and I never felt true sadness until u left me.”
“Bullshit!”
Tut tut tut tut….
Widney langsung mematikan ponselnya.
Widney cerita tentang semua kejadian yang dialaminya dengan Carrick. Dia bisa melihat raut wajah Carrick sedikit cemburu mendengar cerita Widney yang mengatakan bahwa belakangan ini Brandon lagi berusaha mendekati Widney lagi.
“Yah, terserah kamu aja. Segala keputusan ada di tangan kamu.” Kata Carrick pasrah.
Tapi Widney nggak mau lagi masuk ke lubang yang sama. Dia nggak mau masuk ke jurang yang sama, ke sumur yang sama, dan ke kolam yang sama (penulis kehabisan kata-kata alias speechless).
Pada akhirnya Widney pun lebih memilih Carrick. Kini, hidup Widney jadi lebih bahagia. Carrick sangat mengerti Widney dan dia tidak pernah menyakiti Widney. Widney sangat bersyukur karena akhirnya dia telah menemukan sosok seseorang yang selama ini sudah lama dicarinya.
****
Malam itu seperti yang sudah direncanakan, Widney diajak Carrick makan malam pake lilin alias candle light dinner. Suasananya romantis banget, ada iring-iringan musik klasik dari gesekan biola dan petikkan harpa. Ckckckckckck….pokoknya so sweet banget-banget dah. Dan pada malam itu, Carrick menanyakan hal yang sama sekali tak terduga oleh Widney. Dia berkata,…
“Widney, will u marry me?”
THE END
Subscribe to:
Comments (Atom)



